Angklung Kolintang

Angklung Kolintang

Alat Musik Indonesia yang paling populer http://www.kolintang.co.id

Angklung Kolintang

Sampah kayu kolintang


Kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan peduli terhadap pencemaran lingkungan butuh usaha yang keras dan memang tidak mudah untuk mengajarkannya.
Tetapi mungkin bisa berhasil bila masalah "kesadaran" ini diberi sedikit uang dan inilah yang dilakukan oleh pemerintah Cina.

Kotak mesin daur ulang (recycling machine) yang diletakkan di tengah kota ini pasti akan membuat masyarakat berbondong-bondong untuk rajin membuang sampah, khususnya untuk sampah alumunium dan plastik yang mempunyai kode bar (barcode) seperti kaleng minuman dan lainnya.
Bagaimana tidak, karena setiap sampah yang "diterima" oleh mesin ini maka anda akan mendapatkan 0,1 yuan atau sekitar Rp. 132,-.
Setelah meluncurkan mesin daur ulang ini, dalam seminggu pertama mereka bisa mengumpulkan sebanyak 3.000 botol kosong.

Bicara mengenai sampah,produksi kolintang juga menghasilkan bekas bekas serutan kayu dan potongan potongan kayu wilahan yang kami belum mempunyai cara untuk memanfaatkan atau mendaur ulang.

Opa yohanes kaseke yang paling rajin membuang sampah kolintang.Karena sudah terbiasa bekerja di kebun selama di Minahasa,maka tidak betah berdiam diri selama berada di Salatiga.Kondisi fisik opa memang kuat,menurut cerita sewaktu umur 60 tahun masih sanggup memanjat pohon kelapa yang tinggi.Waktu sudah berumur 80 tahun,masih rajin membuang sampah kolintang di Salatiga,tetapi karena untuk membuang sampah harus menyebrang jalan yang lalu lintasnya ramai maka kami larang karena mengkhawatirkan keselamatannya.Opa tidak boleh membuang sampah,dengan alasan kayu yang masih cukup panjang tidak boleh dibuang karena akan dipakai lagi.Tidak kehilangan akal,maka kayu yang masih panjang panjang dan masih dapat dimanfaatkan dipotong kecil kecil oleh opa,supaya dapat melakukan kegiatan membuang sampah.
Akhirnya opa dilarang membuang sampah baik kayu pendek ataupun kayu panjang.

Sekarang umur opa sudah hampir 100 tahun,kondisinya sudah agak menurun,karena tidak melakukan kegiatan bekerja lagi.Kami menyesal karena melarangnya membuang sampah,mestinya dibiarkan saja membuang sampah sebagai kegiatan sehari harinya berolah raga.
By:MS


Asal Usul Kolintang(cerita rakyat)

Asal Usul Kolintang(cerita rakyat)

Pada jaman dahulu didaerah Minahasa Propinsi Sulawesi Utara ada sebuah desa yang indah bernama To Un Rano yang sekarang dikenal dengan nama Tondano.
Didesa To Un Rano itu tinggalah seorang gadis cantik jelita.Kecantikannya tersohor keseluruh pelosok desa,sehingga banyak dibicarakan orang,maka tak mengherankan banyak pemuda yang jatuh hati kepadanya.Gadis itu bernama Lintang.Ia pandai menyanyi , suaranya nyaring dan merdu.
Pada suatu hari didesa To Un Rano,diselenggarakan pesta muda mudi.Saat itu seorang pemuda gagah dan tampan memperkenalkan diri kepada Lintang”Makasiga namaku,aku berasal dari desa Kelabat Atas,”kata Makasiga sambil menjabat tangan Putri Lintang.
Memang putri Lintang pernah mendengar nama Makasiga.Makasiga adalah seorang pemuda ahli ukir-ukiran dari desa Kelabat Atas.Dan perkenalan mereka itupun berlanjut.
Makasiga ingin meminang putri Lintang.Putri Lintang menerima pinangan Makasiga,tetapi dengan satu syarat.”Buatkan aku musik yang lebih merdu dari bunyi seruling emas*,”kata Putri Lintang kepada Makasiga.Makasiga menyanggupi persyaratan Putri Lintang tersebut.Dan berkat keuletannya,dengan cepat Makasiga mendapatkan alat musik yang lebih keras dari bunyi seruling emas*,namun bukan itu yang dimaksud Putri Lintang.
Akhirnya Makasiga berkelana mencari alat musik yang dimaksud Putri Lintang.
Makasiga berkelana keluar masuk hutan,ternyata alat musik yang dimaksud Putri Lintang belum didapatkan.Untuk mengusir hawa dingin dimalam hari,Makasiga membelah-belah kayu dan menjemurnya.Setelah belahan kayu itu kering ,lalu diambil satu persatu dan dilemparkannya ketempat lain.Sewaktu belahan kayu itu dilempar dan jatuh ketanah,saat itulah belahan-belahan kayu itu mengeluarkan bunyi-bunyian yang amat nyaring dan merdu.
“Ha, belahan-belahan kayu ini pasti dapat dibuat alat musik,”pikir Makasiga.
Berkat ketekunan dan keuletan Makasiga,akhirnya Makasiga berhasil membuat alat bunyi-bunyian itu.
Diletakkannya lidi berderet berjajar dua.Dari deretan lidi di susun tali serat pangkal daun enau.Potongan potongan kayu dibuat berbeda panjangnya yang merupakan urutan not -not tertentu,kemudian di susun pada tali itu.Alat bunyi -bunyian diletakkan pada sebuah palung yang kakinya ada empat setinggi paha.
“Hem, pasti Putri Lintang puas dengan alat bunyi-bunyian ini dan pinanganku diterima,”gumam Makasiga sambil membunyikan alat itu.
Dari jauh ada dua orang pemburu yang mendengarnya.Mereka ketakutan karena dikiranya setan penunggu hutan sedang bermain musik.
Namun setelah pemburu itu mendekatinya,ternyata mereka mengenalnya.Ia adalah Makasiga dari desa Kelabat Atas .
Kedua pemburu sangat terkejut melihat Makasiga yang telah menjadi kurus kering dan lemah.Sebab selama dihutan Makasiga tidak pernah makan dan minum.Yang ia cari adalah alat bunyi bunyian yang dapat diterima dan menyenangkan hati Lintang.
Saat itu kedua pemburu membawa Makasiga dengan tandu pulang ke Desa Kelabat Atas.Makasiga jatuh sakit yang amat parah.Akhirnya Makasiga meninggal dunia.
Putri Lintang yang mendengar bahwa Makasiga telah meninggal dunia,langsung jatuh sakit parah dan akhirnya menyusul Makasiga di alam baka.Mereka telah meninggalkan jasa tiada tara yaitu telah menemukan alat musik yang dikenal dengan nama kolintang.
Dari:Cerita Asli Indonesia
*seruling emas:alat musik yang berbunyi merdu dan indah, milik Putra Mahkota Raja Mongondow yang gagal meminang Putri Lintang karena kasus tertentu.
**referensi lain mengenai seruling emas,dapat dibaca dibuku cerita silat karangan Kho Ping Ho.

Diajar berdagang oleh Pastur


Diajar berdagang oleh pastur

Penjualan kolintang pertama,terjadi pada tahun 1964 kepada turis/misionaris dari Amerika yang datang ke Jogjakarta,pada waktu opa Petrus menjadi mahasiswa Universitas Gajahmada.

Memang situasi dan kondisi pada saat itu mendukung sehingga kolintang perdana dapat dijual ,kalau pada saat itu opa Petrus masih tinggal di Minahasa,mungkin membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk dapat memproduksi kolintang secara komersial.

Suatu ketika seorang pastur Indonesia datang mengantar turis asing untuk membeli kolintang,kebetulan opa Petrus sangat mengharapkan kolintangnya laku terjual karena sangat membutuhkan uang untuk biaya sehari hari.

Opa petrus sangat sedih waktu Pastur kaget mendengar harga yang diajukan opa Petrus,sambil bertanya dalam hati ,akan ditekan serendah apalagi untuk kolintang yang sudah murah ini,padahal kolintang harus laku supaya dapat menutup biaya sehari hari.

Tidak disangka sangka Pastur mengatakan kepada opa Petrus agar menjual kepada turis asing yang dia bawa seharga dua kali lipat dari harga yang diajukan opa Petrus.
Tanpa menawar nawar lagi,turis asing itu membeli kolintang seharga yang di usulkan Pastur.

Pada awal produksi kolintang memang belum ada standarisasi harga jual seperti sekarang ini,selain itu memang susah juga menetapkan harga jual suatu produk yang bahan bakunya diambil gratis dari pohon kayu rumah tetangga memakai tenaga kerja diri sendiri yang uang makannya nol rupiah,karena makan singkong gratis dari kebun belakang asrama mahasiswa.

Pada dasarnya jiwa sosial opa Petrus yang anak pendeta Yohanes Kaseke lebih besar dari jiwa dagangnya,bagi opa Petrus tidak ada rahasia dapur ilmu membuat kolintang,sehingga semua pengetahuan dan eksperimen eksperimen tentang kolintang dengan sukarela dibagikan kepada siapa saja.

Tidak mengherankan bila pada saat saat opa Petrus sibuk keliling dunia pentas kolintang,muncul banyak pembuat kolintang dadakan menampung pesanan kolintang pada saat penjual aslinya tidak ada ditempat,mulai dari tukang tukang opa Petrus,murid murid yang dilatih,juga pelatih kolintang binaan opa Petrus.

Selain membagi bagi ilmu,opa Petrus juga sering menurunkan harga jual dengan alasan sosial,sehingga ada suatu saat dimana oma Petrus harus menahan supaya calon pembeli tidak dapat langsung berhubungan dengan opa Petrus.

Oma Petrus yang kegiatan sehari harinya sebagai ibu rumah tangga dan terbiasa tawar menawar belanjaan dipasar tradisional,mulai membantu menangani calon pembeli kolintang.

Pada waktoe itu bisa dipasang pengoemoeman:”bagi soedara soedara calon pembeli kolintang yang maoe minta diskon……,dipersilahken meminta diskon…..”,oma Petroes akan menoeroenken harga kolintang sebesar harga satoe kilo cabe rawit.

By: MM


Melanglang buana bermodal “tiga jurus”.

C….A minor……D minor…ke G….kembali ke C lagi……..,
C A minor D minor ke G ke C lagi. A minor D minor ke G ke C lagi. A minor D minor ke G ke C lagi.

Lirik di atas adalah cuplikan dari lagu kuburan band yang sedang populer tahun 2009.
Kisah cinta pemicu pengembangan kolintang di pulau jawa.

Kisah cinta pemicu pengembangan kolintang di pulau jawa.

Selalu meraih prestasi juara I dari SD hingga SMA di Ratahan tidak menjamin akan berhasil melewati fakultas mesin di Universitas Gajahmada.

Menurut opa Petrus,pada waktu itu textbook-textbook di fakultas mesin belum ada terjemahan Indonesianya,sehingga opa Petrus kesulitan untuk mempelajarinya.
(Menurut opa buyut sih….pokoknya seribu satu macam alasan dech….:)


Pada waktu itu bantuan beasiswa dari bupati Minahasa tidak cukup untuk meneruskan kuliah,sehingga opa petrus mengalami masa masa sulit,kuliah di teknik Mesin Universitas Gajahmada terancam drop out.

Untuk menghidupi dirinya,opa bekerja serabutan,selain berusaha menjual kolintang,juga menjadi pemain musik di café café(jaman itu lebih dikenal sebagai kelab malam),atau kadang kadang mengisi acara musik di pentas pentas tertentu,statusnya saat itu menjadi seniman yang tidak mempunyai penghasilan yang jelas sumbernya.

Suatu ketika opa Petrus diminta mengisi suatu acara di Universitas Satyawacana Salatiga.
Pada saat gladiresik, rektor I Satyawacana pada waktu itu (almarhum Notohamidjojo) meminta opa memainkan sebuah lagu dengan alat musik kolintang.

Sekarang opa Petrus sudah lupa nama lagu itu,yang masih opa ingat,lagu itu berasal dari kepulauan Sangir Talaud dan biasanya di mainkan sebagai lagu pengiring dansa.

Dengan cermat bpk. Noto ,mendengarkan lagu tersebut,memberi petunjuk urut urutan lagu,mulai dari intro,pengulangan sampai endingnya.

Lagu itu terus menerus diminta diperdengarkan selama gladiresik,sambil sekali kali bpk Noto melamun,sampai sampai di dalam hati opa Petrus bertanya tanya,kenapa lagu tersebut minta terus menerus di mainkan.

Setelah kejadian itu ,opa Petrus diberi tawaran bekerja sebagai staff di Universitas Satyawacana Salatiga dengan kondisi yang sangat menyenangkan,diberi ruangan kerja di gedung auditorium,dengan gaji tetap dan waktu kerja yang fleksibel untuk terus dapat mengembangkan alat musik kolintang.

Opa sangat bersyukur dengan tawaran Bpk Noto,yang secara otomatis menaikkan status opa dari seniman luntang luntung menjadi pegawai swasta Universitas Satyawacana,hal ini yang menimbulkan keberanian opa untuk datang ke Tegal untuk melamar oma Petrus.

Tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutan kisah kolintang di pulau jawa,jikalau opa Petrus tidak mendapatkan tawaran kerja oleh bpk Noto,kemungkinan besar opa buyut akan mengirim tiket kapal pulang ke Minahasa,setelah sekian lama menjadi seniman luntang luntung dan drop out kuliah.

Kemudian hari opa Petrus diberitahu kalau lagu berdansa dari Sangir Talaud mengingatkan akan kekasih alm.bapak Noto yang orang Sangir Talaud,mantan istri pertamanya.

By: M.M


Perjalanan Kolintang ke Jogjakarta



Pada tgl 13 Mei 1830 Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado.menggunakan kapal Pollux.

Konon Pangeran Diponegoro beserta rombongan dibuang ke Manado .sambil membawa alat musik gamelan lengkap dengan gambangnya.

Rupanya selama pembuangan di Minahasa kotak resonator gambang gamelan,meng inspirasi orang orang minahasa untuk membuat kotak resonator kolintang mirip gambang sebagai pengganti tumpuan diatas kaki yang diselonjorkan atau tumpuan batang pisang.
Secara tidak langsung kolintang mendapat pengaruh dan memiliki kekerabatan dengan kebudayaan dari jawa.,oleh sebab itu tidak mengherankan jika alat musik kolintang dapat diterima dalam masyarakat jawa.

Pada tahun 1962 pemuda Petrus Kaseke pembuat kolintang asal Ratahan mendapat beasiswa dari Bupati Minahasa untuk melanjutkan ilmunya di Universitas Gajahmada Jogjakarta.

Mahasiswa jurusan mesin ini tidak melupakan kegiatan yang dikerjakan dari daerah asalnya selama di Jogjakarta. sebagai pembuat kolintang.

Membuat kolintang di Jogjakarta,merupakan perjuangan tersendiri karena kayu kolintang tidak didapatkan secara cuma cuma seperti halnya di sulawesi utara pada saat itu,ditambah lagi kesulitan dana karena statusnya sebagai mahasiswa universitas Gajahmada yang mendapat beasiswa terbatas dari bupati Minahasa


Berlainan hal nya dengan di Minahasa dimana kayu kolintang dijadikan kayu bakar,di Jogjakarta Petrus kaseke harus berburu kayu ke rumah rumah penduduk yang mempunyai pohon rindang dengan menawarkan jasa memotong pohon sehingga batang pohon dan dahan dahannya dapat dipakai untuk membuat kolintang.

Usaha memperkenalkan kolintang ke pulau jawa membuahkan hasil,sehingga kolintang sangat populer di jawa tengah.Perlombaan perlombaan kolintang diadakan sampai ke tingkat kelurahan tidak kalah merakyat di bandingkan dengan kondisi di Minahasa,sering kali Petrus Kaseke diundang sebagai juri lomba.

Pada saat ini dengan maraknya group musik campur sari,banyak pembeli kolintang secara eceran,ada yang membeli bass kolintang untuk digabungkan dengan group keroncong,ada yang beli cellonya atau melodynya saja.

Kolintang berkembang mulai dari fungsi alat untuk ritual animisme di Minahasa,menjadi perlengkapan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah sekolah,juga alat musiknya kegiatan ibu ibu PKK, kegiatan keagamaan dan acara acara lainnya di pulau jawa,tanpa bantuan iklan besar besaran di surat kabar atau televisi.

Orang orang yang percaya mistis ,mengatakan gambang “kolintang” yang dibawa oleh pangeran Diponegoro waktu di buang ke Menado th 1830,harus sowan dahulu ke Jogjakarta lewat Petrus Kaseke th 1962,sebelum menyebar ke pulau jawa dan seluruh dunia.

By: Markus Sugi

Ratahan





Ratahan…Ratahan….Oh Ratahan ….
Setempat yang indah permai……….
Mari kita masuk Ratahan…………..
Setempat yang indah permai……….


Lirik di atas adalah adaptasi sebuah lagu yang mengganti kata “Kanaan” menjadi “Ratahan”.

Ratahan adalah nama sebuah kecamatan di Minahasa Selatan,tempat asal opaku Petrus Kaseke ,tepatnya di desa Rasi.
Anak dari seorang petani yang juga pendeta bernama Yohanes Kaseke.

Kita lihat silsilah keluarga opa Petrus yang unik.
Kakek buyut opa Petrus bernama Petrus kaseke.
Kakeknya opa Petrus bernama Leufrand Kaseke
Papanya opa Petrus bernama Yohanes Kaseke
Anaknya opa Petrus bernama Leufrand kaseke
Kalau menuruti aturan pengulangan nama ,bisa ditebak nanti putra Leufrand Kaseke akan dinamai Yohanes Kaseke.

Hayoo….? siapa yang mau siap siap memberi kado bayi dari sekarang?istri belum ada,tapi nama anak sudah di siapkan…….

Leufrand Kaseke senior berprofesi sebagai tukang kayu,jadi bakat menukang dan sebagian peralatan tukang kayu diwariskan oleh kakeknya opa.

Seperti pada umumnya di daerah Minahasa,orang orang Menado gemar mengadakan pesta,dansa dansi,baik pada pesta pernikahan atau pada acara acara pertemuan lainnya,apalagi pada waktu sekitar pergantian tahun.

Kebiasaan di atas secara otomatis menumbuhkan kebiasaan suka menyanyi dan bermain musik,juga dansa.
Tidak mengherankan kalau opa Petrus sudah terbiasa menyetem(tuning) gitar sejak usia 5 tahun,meskipun belum dapat memainkan gitar.
Waktu kecil opa Petrus sering menawarkan diri untuk menyetem(tuning) gitar,yang sedang dimainkan orang orang dewasa yang tidak menyadari gitarnya fals.

Waktu kecil opa Petrus membuat kolintang hanya sebagai hobby.
Kalau disuruh papanya untuk mencari kayu bakar,maka sambil memotong motong,kayu bakarnya juga di stem(tuning) membentuk nada dan setelah bosan bermain,kayu kayu “kolintang” tersebut dikumpulkan kembali untuk di jadikan kayu bakar.

By : Liza markus.