Angklung Kolintang

Angklung Kolintang

Alat Musik Indonesia yang paling populer http://www.kolintang.co.id

Angklung Kolintang

Kompas.Com - "Bakudapa" di Pasang Surut Kolintang


"Bakudapa" di Pasang Surut Kolintang
KOMPAS/NASRULLAH NARA
Sejumlah pemain, pelatih, dan pembuat alat musik kolintang asal Minahasa, yang telah puluhan tahun merantau di Jakarta dan kota-kota lainnya di Pulau Jawa, mengamati sebuah kolintang di Stadion Maesa, Tondano, Sulawesi Utara, Sabtu (31/10).
Artikel Terkait:

* Rekor Dunia Membentangkan Paten Kolintang

Kamis, 5 November 2009 | 07:41 WIB

Oleh NASRULLAH NARA

Bulu kuduk Hein Sorongan (55) merinding ketika musik kolintang mengalun di Stadion Maesa, Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Sabtu (31/10) sore. Mata Petrus Kaseke (67) bahkan berkaca-kaca menyaksikan persembahan massal kolintang dengan jumlah pemain dan alat mencapai 1.223.

Di tengah alunan lagu ”Tembo-temban” dan ”Minahasa Kina Toanku” yang dibawakan mendayu oleh dua gadis Minahasa, ingatan mereka terlontar ke masa kanak-kanak dahulu di Bumi Minahasa. Selain Hein dan Petrus, juga hadir ratusan penggiat kolintang, termasuk pelatih dan pembuat kolintang, baik yang bermukim di Minahasa maupun yang tinggal di sejumlah kota di Jawa.

Malang melintang di dunia seni tradisi, inilah kali pertama opa-opa itu menyaksikan kolintang dimainkan massal. Sebuah kerinduan akan bangkitnya kembali musik kolintang di tatar Minahasa membuncah di sanubari mereka.

Apalagi, pergelaran kolintang untuk dicatat dalam Guinness World Records itu juga dirangkai dengan pentas musik bambu yang dimainkan 3.011 orang. Kolintang dan musik bambu adalah seni tradisi yang tumbuh dan mengakar di tatar Minahasa sebelum kemudian menyebar ke daerah lain di Tanah Air.

Kolintang raksasa yang dipajang dalam acara itu terbuat dari kayu cempaka berukuran panjang 8 meter, lebar 2,5 meter, tinggi 2 meter, berat 3,168 kilogram, dan volume bahan 13,7 meter kubik. Adapun musik bambu berupa seng klarinet berukuran panjang lengkung/lingkar dalam-luar 4-32 meter, diameter mulut 6 meter, dan tinggi 8 meter.

Perwakilan Guinness World Records, Lucia Sinigagliesi, manggut-manggut takjub seraya berucap, ”Wow, it’s very nice….” Pencatatan seni tradisi Minahasa itu pada buku rekor dunia menutup ruang negara lain untuk mengklaimnya.

Diprakarsai Institut Seni Budaya Sulawesi Utara pimpinan Benny J Mamoto, pergelaran itu sarat misi primordialisme dan patriotisme. Diawali dengan seminar dan lokakarya, seluruh rangkaian kegiatan itu dihadiri perwakilan komunitas kolintang dari provinsi di Pulau Jawa. Tujuannya, selain menggapai pengakuan dunia agar tidak diklaim negara lain, juga untuk menyadarkan fenomena pasang surutnya kolintang di Tanah Air.

”Kami ingin membuktikan bahwa akar seni tradisi kolintang dan musik bambu berasal dari Minahasa sebelum kemudian menjadi medium perekat bangsa,” ujar Hendrik J Mantiri (62), penggiat kolintang sekaligus penerima pin maestro musik bambu dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009.

Sebutan Minahasa mengacu kepada salah satu suku yang menghuni jazirah utara Pulau Sulawesi, di samping suku Sanger-Talaud, dan Bolaang Mongondow. Entitas budaya itu awalnya menghuni sebuah wilayah yang bernama Kabupaten Minahasa. Belakangan, seiring dengan era otonomi daerah, kabupaten itu mekar dari daerah induknya, yakni Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Minahasa Tenggara.

Bagi opa-opa penggiat kolintang itu, pulang ke tanah leluhur merupakan kesempatan langka. Biasanya mereka pulang ke kampung cuma dalam rangka Natal. Itu pun tidak rutin karena sudah dibalut kesibukan mengurus anak dan cucu serta aktivitas gereja. ”Torang (kita) bisa bakudapa (ketemuan) begini di Minahasa karena kolintang. Sayang sekali waktunya mepet. Torang nyandak bisa sama-sama keliling kampung halaman,” tutur Hein.

Di balik kegembiraan akan reuni seperti itu, tebersitlah galau. Gempuran budaya pop membuat kolintang tidak lagi rutin dilombakan. Lomba setingkat kabupaten paling banter sekali setahun. Belakangan, di pesta hajatan, kolintang sudah tergantikan organ tunggal (digital).

Redupnya kolintang juga bisa diukur dari kian jarangnya jumlah pembuat kolintang. Bengkel kolintang yang bertahan di wilayah Minahasa bisa dihitung dengan sebelah jari. Salah satunya adalah milik Joudy Aray di Tomohon, pembuat kolintang raksasa yang dipajang dalam pergelaran itu.

Namun, nilai plus dari hajatan itu terletak pada kehadiran putra-putra Minahasa yang merantau dengan bekal kecakapan bermain kolintang dan di tanah rantau konsisten menekuni bidang itu. Mereka telah meninggalkan Minahasa pada usia 20-25 tahun dengan predikat serba bisa: sebagai pemain, pelatih, dan pembuat kolintang.

Hendrik J Mantiri menegaskan, pemain dan pembuat kolintang sekaligus harus paham ukuran tebal-tipisnya serutan perut balok-balok kayu waru atau cempaka di atas peti resonator untuk mendeteksi nada ”tong” (nada rendah), ”ting” (tinggi), dan ”tang” (tengah). Irama-irama itulah yang muncul dari instrumen musik yang minimal terdiri atas enam unit, yakni satu melodi, satu benyo, satu juk, dua gitar, dan satu bas.




Hein Kaseke

Hein Kaseke

Hein Kaseke

Tahun 1967 mulai melatih Musik Bambu dibeberapa tumpukan Musik Bambu di daerah Ratahan dan sekitarnya. Tahun 1980, penglihatannya tiba-tiba hilang. Tapi bukan berarti menyurutkanya untuk mendalami Musik Bambu. Kecintaaannya pada Musik Bambu makin menjadi-jadi. ”Mata buta bukan berarti akhir dari segala-gala.

Saya makin terpacu. Saya percaya semua yang terjadi so diatur yang Kuasa,” kata pria kelahiran Tousuraya 10 Desember 1947 ini. Tahun 1983, untuk lebih fokus pada pengembangan Musik Bambu, ia meminta pensiun dini sebagai pegawai negeri yang dilakoninya sejak tahun 1965. Kini, hidupnya tiada hari tanpa Musik Bambu baik sebagai pelatih, pengrajin maupun mengaranger lagu. Dan dari tangan suami Elisabeth Punuhsingon ini sudah 5 (lima) album kaset yang ia keluarkan antara lain: Album Rohani Musik Bambu Klarinet dan album Musik Klarinet bersama tumpukan Harapan Taruna Jaya Pangu Ratahan.
Dengan adanya penghargaan ini, dunia seni budaya Sulawesi Utara mendapat gairah baru. Saya percaya dengan adanya penghargaan ini akan memacu para seniman untuk terus berkarya bukan karena ada penghargaan tetapi karena adanya perhatian dan apresiasi dari para peminat seni budaya khususnya Institut seni Budaya sulawesi Utara. Saya bersyukur adanya seorang Benny Mamoto yang datang bagaikan mata air di tengah gurun pasir, yang memberi dahaga bagi para seniman tua seperti saya. Ini adalah adalah hadiah istimewa di hari ulang tahun saya yang ke 62. Makase Tuhan Yesus.


Nelwan Katuuk

Nelwan Katuuk

Almarhum Nelwan Katuuk
Nama Almarhum Nelwan Katuuk, dalam jejak sejarah Musik Kolintang sudah begitu menyatu. Sebab boleh dikata dari tangan kreatifnya Musik Kolintang tercipta, yang ditandai dengan mengembangkan ensambel musik Kolintang dengan menetapkan nada-nada Chromatic dan Diatonik. Uniknya, Almarhum yang lahir di Desa Kauditan Minahasa Utara pada 30 Maret 1920, sejak lahir sudah tidak bisa melihat. Tapi walaupun buta namun Tuhan memberikan karunia lain yang begitu dasyat pada seni musik.
Dalam rekam jejak pengabdiannya, tercatat almarhum telah mengkreasikan Kolintang tradisional berupa orkes yang menggabungkan alat musik kolintang yang diciptakan dengan musik lainnya yang terdiri dari Kolintang Melodi, Gitar, Ukulele (Juk), String Bass tradisional. Juga dari tanganya sudah tercipta kurang lebih 20 lagu daerah.
Mewakili istri almarhum; Soesana Lasut, salah seorang puterinya Dra. Rachel H.E. Katuuk, mengungkapkan penghargaan yang diberikan Bapak Benny Mamoto melalui Institut Seni Budaya Sulut ini makin mempertegas bahwa Musik Kolintang milik Sulawesi Utara. Baginya, seni budaya tanpa perhatian tak akan berkembang. ”Perasaan kami keluarga tak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Yang pasti, kami terharu, walau Papa so nyanda ada tapi buah karyanya diperhatikan di daerah tempat lahirnya. Ini adalah penghargaan pertama dari Sulawesi Utara kepada almarhum. Sebab negara lewat penghargaan yang diberikan Presiden Soekarno pada 1963 mengakui almarhum adalah pencipta Musik Kolintang. Jadi penghargaan ini melengkapi pengakuan yang sudah ada atas karya-karya Almarhum namun peristiwa ini menjadi begitu istimewa karena penghargaan datang dari daerah tempat Almarhum lahir dan meninggal. Nelwan Katuuk dipanggil Sang Kuasa pada 26 Januari 1996.