Angklung Kolintang

Angklung Kolintang

Alat Musik Indonesia yang paling populer http://www.kolintang.co.id

Angklung Kolintang

Karakteristik Kayu Bilahan Kolintang

Pada awal produksi Kolintang di pulau Jawa,Petrus Kaseke mengalami keterbatasan modal karena statusnya yang masih mahasiswa  di UGM Yogyakarta ,sehingga cara mendapatkan bahan baku kayu kolintang dengan menawarkan jasa memangkas segala jenis pohon secara gratis kepada pemilik pemilik rumah yang mempunyai pohon rindang  dan memanfaatkan hasil pangkasannya untuk membuat kolintang.

Dengan berkembangnya musik kolintang di pulau jawa, yang mempengaruhi penghasilan dari usaha kolintang, Petrus Kaseke mempunyai modal untuk mengadakan riset dan survey untuk memilih kayu yang ideal untuk dibuat bilahan kolintang.
Berbagai macam kayu dicoba untuk mendapatkan kayu bilahan kolintang yang ideal, selain kayu yang ada di pulau Jawa,Petrus Kaseke juga mencoba jenis jenis kayu dari luar pulau.

Khusus dari Minahasa bukan hanya kayunya, bahkan pengrajin pengrajinnya didatangkan ke Jawa tengah untuk membantu produksi.
Bersama pengrajin kolintang dan pemain kolintang Minahasa th80an

Beberapa kayu yang dicoba antara lain,kayu sono (Dalbergia/Rosewood)yang sering dipakai sebagai kayu bilahan marimba,kayu kelapa,kayu aren, kayu-kayu yang ada di Minahasa  antara lain kayu cempaka,bandaran,wenang(benuang),kayu tolor serta kayu Waru dari pulau Jawa.
Kesimpulan dari riset dan survey tersebut ,pada dasarnya semua kayu yang padat akan menghasilkan bunyi yang hampir sama , jadi tidak dapat dipilih kayu ideal untuk alat musik kolintang berdasarkan warna(ciri khas) suaranya.
Kayu yang berserat lurus,lebih mudah untuk dijadikan bilahan dan di laras (tuning/stem),dibanding dengan yang seratnya bengkok atau bermata kayu.Kayu yang lebih padat atau keras lebih mudah menghasilkan nada yang lebih tinggi.Warna suara selain ditentukan dari jenis kayu ,juga ditentukan oleh resonator dan bahan pemukulnya (mallet /sticks).

Dari kesimpulan di atas akhirnya ‘untuk produksi di pulau Jawa’ dipilih kayu Waru karena:
1)Dapat menghasilkan ambitus(rentang nada) yang lebar .
2)Tersedia bahannya untuk di produksi secara massal,karena kayu Waru juga merupakan jenis kayu bahan bangunan di Jawa Tengah.
3)Memenuhi standar persyaratan kekuatan dan keawetan kayu.
4)Tidak terlalu keras sehingga mudah dibentuk ,tetapi tidak terlalu lembek.
Sebetulnya hal yang lebih penting bukan jenis kayu,tetapi sebagai alat musik tentunya lebih ditekankan nada instrument tersebut agar selaras(tidak fals),dan supaya selaras nadanya harus di stem (tuning ) dengan benar.

Dalam kurun waktu 50 tahun memproduksi kolintang,sudah banyak alat musik yang dilaras (stem/tune) oleh Petrus kaseke,baik instrument musik yang baru dibuat maupun instrument yang di tuning ulang.

Dari pengalaman melaras ‘jutaan’ nada ,Petrus Kaseke memberikan tips untuk melaras (tuning)kolintang yang efisien dan efektif sebagai berikut:
1.Mengerti menggunakan alat Tuning (Tuner).
Pada masa belum ada tuner elektronik ,nada kolintang di laras dengan membandingkan (patokan) nada yang didengar dari garputala,sehingga diperlukan keahlian membandingkan nada dengan pendengaran.
Sekarang sudah ada tuner elektronik dan komputer yang memudahkan proses tuning, karena untuk melaras nadanya sudah menggunakan indra penglihatan ,yang melihat kesesuaian nada pada layar alat tuner,meskipun demikian sampai saat ini alat tuner yang ada dipasaran ‘belum sempurna untuk melaras kolintang’ dengan benar terutama untuk nada nada tinggi sehingga tidak dapat mempercayakan ketepatan laras nadanya dengan indra penglihatan saja ,masih diperlukan check ulang dengan indra pendengaran.
2.Memahami kondisi dan sumber kayu Bilahan Kolintang.
Untuk melaras nada kolintang harus mengetahui sumber bahan yang akan dilaras ,kalau kayunya masih berkadar air tinggi (diatas 15%),maka tidak lama nadanya akan berubah setelah kadar airnya menyesuaikan kondisi sekitarnya.Kalau kayu kolintangnya dari sumber yang berbeda,kemungkinan kadar airnya bervariasi yang menyebabkan perubahan nadanya tidak seragam.
3.Memperhitungkan kondisi saat menyetem kolintang (musim kemarau ,musim penghujan,atau lainnya).
Secara alamiah nada kolintang akan berubah ubah tergantung cuaca,pada musim kemarau nada akan naik dan pada musim penghujan nada akan turun.Perubahan nada karena cuaca berlaku untuk banyak alat musik (kecuali alat musik digital),bahkan produsen xylophone belum dapat menghasilkan instrument yang  stabil nadanya terhadap cuaca,meskipun sudah bereksperimen mengganti bilahannya dengan bahan sintetis.Disini kita harus menyiasati agar sesedikit mungkin bilahan yang dilaras karena perubahan cuaca,karena kalau terlalu sering dilaras selain membuang banyak energi ,bilahan kolintang akan habis mengingat cara melarasnya adalah memotong pendek atau menipiskan kayu bilahannya.
4.Menggunakan standar tuning A=440 dan A=442
Seperti yang kita ketahui standar tuning alat musik disesuaikan dengan frekwensi nada A=440 Hertz ,tetapi ada juga yang menggunakan standar frekwensi nada A=442 Hertz.Pada kenyataannya hanya telinga-telinga yang terlatih saja yang dapat membedakan selisih nada 2 Hertz tersebut.
Memperhatikan point-point diatas ,Petrus Kaseke melaras bilahan kolintang menggunakan  2 macam standar tuning yang disesuaikan dengan kondisi cuacanya contohnya pada musim kemarau dilaras dengan standar A=440 sehingga pada saat musim penghujan nada akan naik .
Dengan pemilihan sumber kayu dan kadar air yang sama,bilahan kolintang akan naik nadanya secara merata ,sehingga Petrus Kaseke hanya melaras beberapa bilahan-bilahan yang bandel.Dengan berjalannya waktu bilahan bilahan bandel tersebut sudah dapat menyesuaikan diri dengan cuaca sehingga semakin sedikit bilahan bilahan yang harus dilaras ulang karena kondisi cuaca yang berubah.

Strategi tuning di atas cukup efektif ,sebagai suatu bukti  Group Musik  Indonesian National Orchestra yang mana anggota-anggotanya menggunakan alat musik dari berbagai daerah di Indonesia ,menggunakan kolintang Petrus kaseke  sebagai patokan penyeragaman laras untuk alat alat musik yang lain,kalau nadanya fals dan tidak stabil tentu tidak dipercaya sebagai patokan.
@kolintang

Tips memilih (alat musik) angklung

Beberapa tahun terakhir sedang trending seminar seminar yang menjadikan angklung sebagai alat bantu (peraga)nya dimana pesertanya mendapat sebuah angklung di akhir seminar ,hal ini membuat kami sering mendapatkan pesanan mendadak dalam jumlah yang besar,tetapi sayang sekali kami lebih sering menolak pesanan tersebut karena biasanya kami diberi waktu yang sangat sempit untuk mempersiapkan barangnya,padahal bambu memerlukan waktu untuk proses pengeringan,dan kami tidak bersedia menjualnya kalau bambunya belum kering,karena nadanya belum stabil.

Dibawah ini adalah Tips memilih angklung untuk dijadikan sebagai alat musik yang baik.

1.Pemilihan jenis bambu yang tepat.
Dari ratusan jenis bambu ,hanya beberapa jenis yang cocok untuk bahan alat musik angklung,diantaranya bambu hitam yang bersuara nyaring dan bulat ,sedangkan bambu kuning bersuara nyaring tetapi agak getas (cempreng).
2.Bambunya harus cukup kering
Untuk mendapatkan nada yang konstan,kalau bambunya belum cukup kering ,maka nadanya akan berubah (fals) setelah bambunya mengering.
3.Bambunya harus diawetkan 
Supaya tidak dimakan serangga ( ada beberapa jenis pengawetan mulai yang tradisionil sampai yang menggunakan bahan kimia).
4.Ukuran lubang tumpuan tabung bambu angklung yang tepat.
Sisi sisi lubang tumpuan tabung berfungsi sebagai pemukul angklung,kalau jaraknya terlalu pendek tidak menghasilkan pukulan yang keras sehingga kurang nyaring suaranya,tetapi kalau jarak lubang terlalu panjang,angklungnya tidak dapat digetarkan dengan baik.
5.Bunyi nadanya pada frekwensi yang tepat ,tidak fals.
Nada angklung dihasilkan dari bilah tabung bambu yang beradu dengan sisi sisi lubang tumpuan tabung bambu sehingga menghasilkan suara dari getaran lateral,sama halnya dengan bilah marimba/kolintang.
Untuk mendapatkan nada tinggi caranya dengan meruncingkan ujung tabung bambu, karena semakin pendek bilahnya semakin tinggi nada yang dihasilkan.
Untuk mendapatkan nada rendah caranya dengan menipiskan bagian tengah bilah tabung bambu,karena semakin tipis bilahnya semakin rendah nada yang dihasilkan.
6.Ukuran tabung resonator yang sesuai.
Pengrajin angklung pada umumnya sudah mempunyai patokan (tabel) yang berkaitan dengan nada ,diameter tabung dan panjang lubang tabung (tinggi silinder),sehingga mereka dapat memotong bambu sesuai dengan nada yang di inginkan berdasarkan tabel(rumus perbandingan nada,diameter dan tinggi silinder).
Karena dihasilkan oleh alam ,diameter tabung bambu tidak selalu sama antara ujung yang satu dengan ujung yang lain,selain itu tinggi dalam tabung sulit diukur dengan akurat,sehingga nada yang dihasilkan dengan cara melihat tabel tidak selalu tepat.
Untuk mendapatkan nada yang tepat harus di tuning ulang,disamakan nadanya dengan nada yang dihasilkan oleh getaran lateral bilah tabung bambu.untuk membuat nada lebih tinggi dilakukan dengan memotong / memperpendek tabung bambu,sedangkan untuk membuat nada lebih rendah karena tidak dapat memperpanjang tabung bambu yang sudah jadi angklung,maka diatasi dengan menyambung tabung bambu dengan silinder kertas tebal(karton) yang dilem kebagian dalam tabung bambu sehingga tabung tersebut menjadi panjang.
Kalau frekwensi nada 'bilah tabung’ dan ‘silinder tabung’ sudah di tuning sama ,maka akan terjadi resonansi yang membuat bunyi angklung menjadi nyaring.
Sering  pemain angklung yang tidak mengerti kegunaannya ,akan melepas silinder kertas karton yang menyebabkan suara angklungnya berubah nadanya.

Tidak semua pengrajin angklung memperhatikan 6 point diatas,penyebabnya karena :

-Tidak mengetahui teknik membuat alat musik yang bagus
-Kurang kontrol kualitas
-Lebih mementingkan mengejar omset, sehingga mereka memproduksi angklung dengan bambu yang belum cukup kering
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal membutuhkan waktu , modal yang cukup untuk menyimpan bahan baku dan pengetahuan serta pengalaman sebagai pengrajin alat musik.

Selain hal diatas kami juga seringmenerima keluhan calon pembeli souvenir angklung,yang membandingkan harga kami lebih mahal daripada harga penjual penjual souvenir angklung ditempat tempat wisata,yang sudah murah harganya,masih ada hiasan ukir ukirannya lagi.
Kami jelaskan itu disebabkan karena,kami menjual alat 'musik angklung' , kalaupun akan dijadikan souvenir ,kami tetap mengutamakan fungsi alat musik dari souvenir kami.
By @angklung




Tips membeli kolintang secara satuan

Selain pembeli kolintang secara per set untuk 5 pemain sampai 10 pemain ,banyak pembeli yang hanya membeli satuan antara 1 instrument sampai 3 instrument kolintang.
Dibawah ini beberapa tujuan mereka membeli satuan dan model instrument yang dibeli ,sebagai bahan pertimbangan bagi yang masih bingung memilih jenis instrument yang akan dibeli.

A.Instrument Melody

Melody Type KM-3500 atau sebutan Minahasanya INA ,

Type ini sudah memenuhi standar minimal range yaitu 3 1/2 oktaf (C3-F6) untuk orkestra marimba/xylophone ,sesuai dengan Britannica Encyclopedia

Umumnya pembeli memilih instrument ini untuk berkolaborasi dengan instrument musik lainnya,atau pemain melody kolintang yang ingin lebih sering melatih skill permainannya.

Melody Type Wangko Pro L(arge) , atau sebutan Minahasanya Wangko,

Type ini dinamakan juga melody Alto yang nadanya lebih rendah dari melody INA. Standar Nasional lomba kolintang untuk wangko adalah 3 oktaf(sesuai lokakarya Cisarua 2013) ,tapi kami buat menjadi 3 1/2 oktaf agar sekaligus memenuhi standar Internasional marimba/xylophone untuk orkestra ,dengan range (E2 - A5).
Kelebihan dari Type Wangko Pro L adalah susunan nadanya yang mirip dengan Grand staff dari notasi balok mulai dari spasi paling bawah hingga spasi paling atas.Kelebihan lain dari Type Wangko Pro L adalah kemudahan untuk menyambung nada,sehingga bisa dimodifikasi menjadi type KM-4800 ,dengan range hampir 5 oktaf (E2-C7) ,sudah setara dengan profesional marimba.Dengan range yang cukup lebar ,memungkinkan KM-4800 dimainkan oleh lebih dari satu pemain.
Type melody diatas banyak diminati oleh group marching band, sekolah sekolah musik luar negeri (atau sekolah Indonesia yang berorientasi internasional).

B. Instrument pengiring.

Pembeli yang memilih instrument ini mempunyai bermacam macam alasan:
Bagi kolektor alat musik (dari Korea ,Spanyol juga dari Indonesia) untuk simbolisasi memiliki alat musik tradisional dari Indonesia dan sengaja memilih model yang petinya tidak bersusun jenis Alto/Tenor/Cello supaya lebih berkesan ethnic.
Untuk pemain musik dari jawa barat memilih Alto karena susunannya mirip dengan Arumba 2 oktaf yang dapat difungsikan pula sebagai melody.
Untuk sebagian pemusik lainnya memilih tenor / cello untuk pengganti rithem karena mereka sudah memiliki instrument melody (suling,sasando dll).
Pembeli Bas kolintang umumnya untuk melengkapi nada rendah dari instrument lain yang tidak dapat mencapai nada-rendah seperti group angklung,group musik tiup dan juga group alat musik akustik bersenar (dawai) menggantikan Doubel Bas gitar.


C. Instrument Pesanan khusus


Selain instrument kolintang standar , ada pemesan kolintang untuk anak anak atau group perkusi dengan tangga nada natural,juga pemesan dengan nada nada pentatonis menggantikan gambang,atau kelintang jambi,ada juga yang memesan kolintang tanpa finishing kotak resonatornya, karena akan diukir sendiri ,finish batik atau di finish air brush.Akhir akhir ini banyak pertanyaan dari orang yang akan membeli kolintang untuk dibuat eksperimen,semacam kolintang yang mengeluarkan suara-suara Midi drum atau suara yang bukan kolintang.
Jaman berubah sangat pesat ,sehingga yang tradisionilpun ikut berevolusi.
By : @kolintang

Perkusi bernada (marimba,xylophone,Vibraphone,KOLINTANG)

Link ini https://www.youtube.com/watch?v=FSDTQXK9jds adalah video pemain perkusi bernada memainkan lagu klasik yang temponya  cepat, The flight of the bumble bee (arr by Rachmaninoff).
Lagu tersebut juga dapat dimainkan oleh instrument kolintang,kami sudah pernah mencobanya meskipun belum lancar.
Perkusi bernada juga sering dimainkan dalam group musik jazz.
Kami pernah pameran instrument kolintang pada stand Kementrian Perdagangan di acara Java Jazz dan melihat pemain dari luar negeri mendemontrasikan kepiawaian bermain Jazz pada alat musik kolintang.
Kenapa  di Indonesia belum muncul pemain perkusi bernada  yang handal dan terkenal sekelas Indra Lesmana (pada piano) , Gilang Ramadhan (drummer),atau Dewa Budjana (gitaris) ?
Ada beberapa alasan sebagai berikut:
1)Masih jarang yang memiliki perkusi bernada (Marimba,xylophone,kolintang) secara perorangan ,umumnya alat musik diatas dimiliki oleh kelompok Marching Band,universitas jurusan musik, atau kelompok kelompok organisasi tertentu.
Mengenai kepemilikan alat memang perlu karena kalau kita tidak melatih  penjarian pada piano/gitar atau rudiment pada  perkusi maka kita tidak dapat bermain dengan lancar dan kemampuan musik kita tidak berkembang.
Bisa membayangkan apa jadinya kalau Indra,Gilang atau Dewa Budjana tidak memiliki instrument musik?
2)Tidak diajarkan di kursus kursus musik seperti halnya : Piano,Organ,Gitar ,yang mempunyai tingkatan tingkatan (grade)keahliannya, dari pemula sampai ke tingkat mahir.
Di Indonesia sebetulnya ada pengajaran perkusi bernada dimana muridnya di test secara perorangan untuk dapat lulus
, seperti di beberapa sekolah internasional yang saya lihat tetapi masih pada pelajaran dasar.(sebagai contoh di sekolah internasional Pelita harapan Karawaci)
Berbeda dengan diluar negeri 'perkusi bernada' ada level (grade)nya bahkan diajarkan secara spesifik sampai ke tingkat universitas,sehingga merekapun rajin berlatih dirumah.
Kalau kita ketik kata kunci 'marimba practice' maka akan keluar alat musik marimba yang tanpa kotak resonator,itu cuman dummy hampir tidak berbunyi dan harganya tiga kali lipat harga kolintang melody
.Mereka yang tahu harga dan kwalitas lebih suka membeli kolintang melody dari Indonesia yang murah dan pasti berbunyi nyaring.

3)Kendala orang Indonesia pada umumnya dalam membaca notasi balok karena terbiasa menggunakan notasi angka ,padahal dengan mempelajari buku-buku teknik permainan Marimba/xylophone yang umumnya bernotasi balok dapat meningkatkan permainan sampai ke tingkat ahli.
Kendala membaca notasi balok sebetulnya dapat diatasi karena hanya masalah kebiasaan saja ,karena sebetulnya notasi balok semudah notasi angka.
Bagi yang berminat 'langsung bisa'
menulis dan membaca not balok dan lancar ,silakan klik link ini http://blog.kolintang.co.id/2015/09/menulis-notasi-balok-dengan-cepat.html ,dijamin selesai membaca dan memahami artikel pendeknya langsung bisa menulis notasi balok serta  lancar membaca dalam hitungan hari. 
Di jaman  informasi mudah didapat via internet, teknik permainan dapat dipelajari dari video lewat youtube dan seiring dengan trend musik kolintang yang predikatnya  ganda yaitu alat musik tradisional merangkap  alat musik populer (modern),diprediksikan akan bermunculan musisi handal dan terkenal dengan instrument perkusi bernada.
Kursus kursus musik yang jeli melihat peluang ini, 'pasti' tidak lama lagi akan mengajarkan kolintang dalam materi kursusnya.
Sekarang juga sudah marak lomba lomba group kolintang di berbagai daerah ,dan karena dunia sudah terhubung online nantinya akan meniru
luar negeri yaitu lomba solo performance marimba /xylophone/vibraphone  tetapi menggunakan alat musik kolintang.


  

Melody Kolintang

Melody kolintang adalah alat musik kolintang yang biasanya dipakai dalam group musik kolintang untuk memainkan  lagu  , bisa juga difungsikan untuk mengiringi (comping) atau fungsi lainnya.
Berdasarkan susunan nadanya melody  kolintang ada 3 jenis  yaitu :  Ina (melody standar) , Wangko (melody Alto bernada rendah) dan Taweng (melody sopranino bernada tinggi).

SORTIR

Waktu saya  masih duduk disekolah dasar  kata asing yang sering saya dengar adalah sortir.Kata tersebut sering di ucapkan Petrus Kaseke om saya  pada saat menghadapi supplier kayu kolintang diselingi dengan sedikit kata bahasa jawa kromo yang dikuasainya seperti kepripun,sampun dan sedikit kata lainnya.
Saya sering mendengar kata sortir karena tempat bermain favorit saya dihalaman belakang rumah yang cukup luas tempat menyimpan kayu kayu sebagai bahan baku kolintang.
Prakata

Prakata

Angklung dan Kolintang adalah alat musik kebanggaan Indonesia.
Angklung dan Kolintang sangat populer di Indonesia , dimainkan oleh segala usia , dari berbagai kelompok dan golongan.

Angklung ditetapkan  menjadi Warisan Budaya Dunia (The Intangible Heritage) oleh UNESCO pada tahun 2010 , yang akan disusul oleh Kolintang yang saat ini sedang dalam proses pengajuan penetapan.

Keduanya baik Angklung maupun Kolintang sudah masuk dalam the Guinness World of Records , Kolintang tercatat pada tahun 2010 di Manado waktu pagelaran 1000 Kolintang , sedangkan Angklung pada tahun 2015 , menjadikan Bandung lautan Angklung dengan permainan musik Angklung oleh 20.000 orang.

Kami adalah pembuat alat musik Angklung dan Kolintang yang dikenal sebagai Angklung Kolintang Petrus Kaseke.
Petrus Kaseke sudah aktif memproduksi Angklung Kolintang lebih dari 50 tahun sampai sekarang tahun 2015 dan sudah berkembang menjadi usaha keluarga Petrus Kaseke.

Keinginan kami adalah mengembangkan alat musik Angklung dan Kolintang menjadi lebih baik ,dari segi mutu bahan, kualitas suara , penampilannya supaya Angklung dan Kolintang dapat bersaing dengan alat musik lain di seluruh dunia.

Untuk tujuan diatas kami terus mengembangkan produk kami ,antara lain mempelajari finishing furniture,mempelajari pengolahan bahan baku sehingga berkualitas ekspor ,lolos dari persyaratan masuk ke negara lain seperti kadar air ,anti rayap ,fumigasi dan lain lain.

Dari segi kualitas suara kami tidak segan segan berkomunikasi dengan pembuat alat musik lain diseluruh dunia , sebagaimana diketahui bahwa Angklung dan Kolintang adalah alat musik jenis perkusi bernada yang satu kelompok dengan Marimba dan Xylophone.

Silakan pelajari lebih dalam lagi di blog ini mengenai profil ,sejarah ,spesifikasi produk Angklung Kolintang ,daftar harga Angklung Kolintang , berita kegiatan Angklung Kolintang.

Untuk yang berniat membeli produk kami silakan hubungi kontak kami dibawah.
Kami juga dapat jual Kolintang sesuai dengan pesanan pemusik dan seniman musik yang mempunyai kebutuhan berbeda dari standarnya.
Kami membantu memberi saran yang terbaik untuk calon pembeli yang ingin memiliki Kolintang sesuai dengan pendanaan (budget) yang ada.
Cara menghubungi kami :
email : markus@kolintang.co.id
           petruskaseke@gmail.com
Call/WA/Line/sms: +628161940360 ,+622194803625
Pin BB : 74D90C67
Fax: +62298312906

Nelwan Katuuk

 Nelwan Arthur Dendeng Katuuk

Sebelum abad ke XIII , alat musik perkusi dengan bilah bambu bernada trinodis yang disebut Tetentengan dan alat musik bilah kayu bernada pentatonis yang disebut Tentengkoren (Pamengkelan) telah dipakai sebagai alat musik upacara pertanian , pembukaan hutan dan pendirian rumah panggung.

Pada tahun 1850-an ,Zending Protestan melarang permainan musik kolintang karena dianggap sebagai pemujaan berhala.
Sejak saat itu kolintang gong tidak dimainkan lagi pada berbagai pesta,upacara adat sehingga kolintang gong berangsur-angsur menghilang , sedangkan alat musik perkusi  kayu (Tentengkoren) tetap bertahan tetapi terbatas dimainkan sebagai musik hiburan pelepas lelah bagi pekerja dan petani di kebun (kobong).

Alat perkusi kayu bernada diatonik pertama kali dibuat pada tahun 1939 di Tonsea , oleh Nelwan Katuuk seorang seniman buta yang dibantu William Punuh.Bilah kayu tersebut hanya diletakkan di atas kotak resonator tanpa ikatan , sehingga ketika dimainkan bilah-bilah kayu tersebut sering bergerak.Kotak resonator dipakai sebagai media menyimpan bilah bilah kayu.
Nelwan Katuuk menamakan alat musik perkusi kayu ini sebagai kolintang,nama yang secara tradisional diperuntukkan khusus bagi alat perkusi logam (gong).Sejak saat itu istilah kolintang lebih populer sebagai nama alat musik perkusi kayu dari pada tentengkoren.
Sedangkan istilah kolintang untuk kolintang logam (gong) mulai pudar bersamaan dengan  menghilangnya kolintang gong dari bumi Minahasa.(diambil dari buku Ansambel musik kolintang kayu Minahasa goes to Unesco).

Sebagai catatan tambahan , semasa Petrus Kaseke kecil,setiap ada pengumuman untuk mengumpulkan masyarakat ke alun-alun ,dipukul bertalu-talu gong logam dan gong tersebut memang disebut kolintang.

-MS-

Mallet ( Pemukul)

Mallet (stik) adalah pemukul  yang digunakan untuk memukul instrument musik jenis perkusi. Alat  pemukul ini dalam berbagai variasi bentuk  digunakan untuk memukul drum ,marimba, gambang, glockenspiel, metalofon, jegog , vibraphone dan instrument instrument perkusi lainnya.

Contributors