Kolintang adalah alat musik pukul yang susunan nadanya diatonis berasal dari Minahasa Sulawesi Utara.
Dilihat dari susunan bilahnya terdiri dari:
Kolintang melody yang susunan bilahnya menyerupai susunan Piano atau Marimba.
Kolintang Pengiring dan Bas yang yang terdiri dari 25 bilah berjejer menyerupai Fret gitar senar tunggal dengan tangga nada kromatik.
Dalam hal instrument musik, kolintang hanyalah salah satu dari xylophone bernada diatonis dengan resonator palung yang banyak ditemukan di seluruh dunia. Setelah menyelesaikan konser INO diluar negeri terjadi beberapa kali transaksi antara penonton dengan musisi yang menjual alat musiknya, antara lain Sasando Nusa Tenggara Timur , Suling Sumatra barat , Kecapi Sunda karena keunikannya, namun hal ini belum pernah terjadi pada kolintang.
Pada tahun 1949 Carl Orff Komponis Jerman sudah membuat ansambel “10 instrumen kolintang” (Xylophone Palung) memainkan pertunjukan opera Antigonae. https://en.wikipedia.org/wiki/Antigonae#Instrumentation
Tetapi setelah saat itu “Kolintang” (xylophone dengan resonator palung) masuk museum tidak digunakan lagi untuk konser–konser resmi, digantikan dengan xylophone dengan resonator tabung dan Marimba.
Xylophone dengan resonator palung telah turun tingkatannya menjadi alat pembelajaran musik setingkat Sekolah Dasar yang dikenal sebagai instrument Orff.
Marimba dan Xylophone dengan resonator tabung dianggap mempunyai resonansi yang dapat dihitung dengan presisi menggunakan rumus matematika.
Mengenai bilah kolintang, para pengrajin kolintang saat ini baru mulai terbiasa dengan tuning digital menggunakan aplikasi Android sebagai ganti tuning dengan indra pendengaran. Pabrik Xylophone diluar negeri sudah melakukan double dan triple tuning. Jadi bilahan setelah dituning sekali , masuk ke tahap double tuning menyelaraskan suara sampingan (overtone) ,bahkan ke tahap triple tuning.
Melihat cara tuning pengrajin Kolintang yang masih primitif mereka akan menutup sebelah mata, dan mereka akan menutup mata sebelah matanya lagi jika mengtahui Kolintang dimainkan menggunakan teori musik Barat.
Para mahasiswa musik dari luar negeri umumnya akan datang ke Indonesia mempelajari sesuatu yang sulit didapat dari negeri asal mempelajari alat musik Sunda, Jawa atau Bali dengan tangga nada yang unik.
Apa strategi Kolintang untuk menarik perhatian dunia?
Kita sudah menunjukkan kalau kolintang dapat menandingi dan mengcover lagu-lagu klasik Barat yang sulit dimainkan. Kita juga sudah melakukan langkah baik dengan menggemakan kolintang diseluruh penjuru nusantara dan dunia.
Menurut DR. Etnomusikologi Franki Raden kita harus menawarkan sesuatu yang tidak biasa mereka dengar di negara mereka, sesuatu yang unik yang membuat mereka berminat mempelajari Kolintang secara akademis.
Nah…., bagaimana ?
Kita harus meluruskan anggapan yang salah tentang Minahasa dan budaya kolintang. Baru setelah tahap edukasi, dunia mengerti bahwa kolintang adalah budaya yang unggul.
Untuk membuka mata dunia, kami menyusun sebuah buku berjudul Maimo Kumolintang yang dapat menunjukkan keunikan kolintang.
Budaya Kolintang Minahasa sejauh yang kami ketahui sudah berusia ribuan tahun, bisa jadi lebih kuno dari budaya di pulau Jawa dan Bali.
Dibawah ini testimoni dari professor Marimba tentang buku Maimo Kumolintang.
https://en.wikipedia.org/wiki/Fran%C3%A7ois_Du_Bois
Nov 1, 2022
Oct 28, 2022
Kesan-kesan tentang om Petrus kaseke
Pertama kali mendengar tentang om Petrus Kaseke waktu saya umur 8 tahun di Tegal. Saat itu ayah saya mengatakan kalau tante akan menikah dengan orang Minahasa sambil dibumbui cerita kalau orang Minahasa mempunyai adat memenggal kepala orang.
Pada saat itu pernikahan beda suku masih jarang terjadi di lingkungan keluarga di Tegal. Om Petrus termasuk nekad karena berani melamar tante, datang ke Tegal tanpa ditemani keluarga dari Minahasa.
Om Petrus melamar tante dengan ditemani pdt JMP Batubara dengan modal status, sudah diterima bekerja beberapa bulan sebagai karyawan Universitas Satyawacana setelah beberapa lama bekerja serabutan tanpa gelar.
Statusnya sebagai keturunan ningrat di Ratahan tidak berlaku di kota Tegal. Menurut budayawan D.S Lumoindong kakek buyut om Petrus Kaseke yang juga bernama Petrus Kaseke adalah Hukum Tua (pemimpin Minahasa pada jaman dahulu) yang menikah dengan Putri Dotu Maringka. Dotu Maringka adalah raja Ratahan yang patungnya ada di pusat kota ratahan Minahasa Tenggara.
Setelah berkenalan sehari, om Petrus Kaseke mengatakan besok pagi akan mengantar saya ke sekolah SD Pius Tegal dan sebelumnya akan diajak jalan-jalan. Keesokan harinya saya di jemput jam 6 pagi dan dibonceng motor ke tempat yang pada saat itu sangat jarang dikunjungi di Tegal namanya Balongan. Meskipun bukan tempat yang biasa dikunjungi tetapi jalan-jalan itu cukup mengesankan dari situ awal kedekatan saya dengan om Petrus. Jam 7 pagi saya sudah di antar ke sekolah dengan tidak kekurangan sesuatu apapun.
Saya melanjutkan SMP di Salatiga menemani tante karena waktu itu mengkontrak di rumah tua yang besar dan banyak kamarnya. Rumah itu beralamat di jln Osamaliki 4 yang akhirnya terbeli dan ditinggali sampai sekarang. Keterkejutan berikutnya adalah dalam perbedaan bahasa, meskipun om Petrus sudah lama di Jawa tengah tetapi masih menggunakan istilah dalam bahasa Manado. Saya terkejut waktu om Petrus berkata :” bunuh itu”, untung akhirnya tante menjelaskan kalau saya diminta memadamkan lampu. Beberapa tahun kemudian Agus adik sepupu dari Tegal ikut menemani saya tinggal di Salatiga dan masuk SD Marsudirini. Agus waktu kecil termasuk anak yang bandel, jadi om Petrus mendidik lebih keras. Saya cukup dimarahi kalau berbuat kesalahan, tetapi Agus melawan kalau dimarahi sehingga om Petrus kaseke menghukumnya. Hukuman yang membuat saya ternganga adalah kalau melihat Agus dipegang kakinya dan diangkat dengan kepala dibawah. Waktu di Tegal saya sering menjantur jangrik supaya mau diadu kembali, tapi kalau menjantur orang adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat. Hukuman tersebut untuk mendidik, sebetulnya tidak mencelakai hanya caranya yang kontroversial. Agus akhirnya mendapat jodoh orang Minahasa, sampai sekarang masih tinggal di Salatiga dan membuka warung makan gado-gado bu Agus yang cukup terkenal.
Setelah saya melanjutkan ke SMA Negeri Salatiga, kemudian Royke Komalig keponakan om Petrus dari Ratahan datang ke Salatiga dan sekolah di SMP Negeri. Setelah saya lulus dari universitas Trisakti Jakarta, Fani Gara dari Ratahan datang ke Salatiga dan oleh om Petrus di minta ke Jakarta untuk bersama saya membuka cabang usaha kolintang di Jakarta.
Om Petrus Kaseke datang seorang diri, tetapi sukses menggabungkan dua keluarga besar dari Minahasa dan dari Jawa tengah. Banyak pelajaran yang saya dapat dari om Petrus Kaseke , yang saya terima melalui nasihat langsung ataupun melalui teladan tindakannya. Om Petrus dan tante merupakan orang tua yang membesarkan saya dan menyekolahkan saya sampai selesai. Saya bersyukur memiliki 2 pasang orang tua yang membuat lebih mudah menjalani hidup.
Pada saat itu pernikahan beda suku masih jarang terjadi di lingkungan keluarga di Tegal. Om Petrus termasuk nekad karena berani melamar tante, datang ke Tegal tanpa ditemani keluarga dari Minahasa.
Om Petrus melamar tante dengan ditemani pdt JMP Batubara dengan modal status, sudah diterima bekerja beberapa bulan sebagai karyawan Universitas Satyawacana setelah beberapa lama bekerja serabutan tanpa gelar.
Statusnya sebagai keturunan ningrat di Ratahan tidak berlaku di kota Tegal. Menurut budayawan D.S Lumoindong kakek buyut om Petrus Kaseke yang juga bernama Petrus Kaseke adalah Hukum Tua (pemimpin Minahasa pada jaman dahulu) yang menikah dengan Putri Dotu Maringka. Dotu Maringka adalah raja Ratahan yang patungnya ada di pusat kota ratahan Minahasa Tenggara.
Setelah berkenalan sehari, om Petrus Kaseke mengatakan besok pagi akan mengantar saya ke sekolah SD Pius Tegal dan sebelumnya akan diajak jalan-jalan. Keesokan harinya saya di jemput jam 6 pagi dan dibonceng motor ke tempat yang pada saat itu sangat jarang dikunjungi di Tegal namanya Balongan. Meskipun bukan tempat yang biasa dikunjungi tetapi jalan-jalan itu cukup mengesankan dari situ awal kedekatan saya dengan om Petrus. Jam 7 pagi saya sudah di antar ke sekolah dengan tidak kekurangan sesuatu apapun.
Saya melanjutkan SMP di Salatiga menemani tante karena waktu itu mengkontrak di rumah tua yang besar dan banyak kamarnya. Rumah itu beralamat di jln Osamaliki 4 yang akhirnya terbeli dan ditinggali sampai sekarang. Keterkejutan berikutnya adalah dalam perbedaan bahasa, meskipun om Petrus sudah lama di Jawa tengah tetapi masih menggunakan istilah dalam bahasa Manado. Saya terkejut waktu om Petrus berkata :” bunuh itu”, untung akhirnya tante menjelaskan kalau saya diminta memadamkan lampu. Beberapa tahun kemudian Agus adik sepupu dari Tegal ikut menemani saya tinggal di Salatiga dan masuk SD Marsudirini. Agus waktu kecil termasuk anak yang bandel, jadi om Petrus mendidik lebih keras. Saya cukup dimarahi kalau berbuat kesalahan, tetapi Agus melawan kalau dimarahi sehingga om Petrus kaseke menghukumnya. Hukuman yang membuat saya ternganga adalah kalau melihat Agus dipegang kakinya dan diangkat dengan kepala dibawah. Waktu di Tegal saya sering menjantur jangrik supaya mau diadu kembali, tapi kalau menjantur orang adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat. Hukuman tersebut untuk mendidik, sebetulnya tidak mencelakai hanya caranya yang kontroversial. Agus akhirnya mendapat jodoh orang Minahasa, sampai sekarang masih tinggal di Salatiga dan membuka warung makan gado-gado bu Agus yang cukup terkenal.
Setelah saya melanjutkan ke SMA Negeri Salatiga, kemudian Royke Komalig keponakan om Petrus dari Ratahan datang ke Salatiga dan sekolah di SMP Negeri. Setelah saya lulus dari universitas Trisakti Jakarta, Fani Gara dari Ratahan datang ke Salatiga dan oleh om Petrus di minta ke Jakarta untuk bersama saya membuka cabang usaha kolintang di Jakarta.
Om Petrus Kaseke datang seorang diri, tetapi sukses menggabungkan dua keluarga besar dari Minahasa dan dari Jawa tengah. Banyak pelajaran yang saya dapat dari om Petrus Kaseke , yang saya terima melalui nasihat langsung ataupun melalui teladan tindakannya. Om Petrus dan tante merupakan orang tua yang membesarkan saya dan menyekolahkan saya sampai selesai. Saya bersyukur memiliki 2 pasang orang tua yang membuat lebih mudah menjalani hidup.
Oct 24, 2022
Tangga nada asli Minahasa
Kolintang termasuk instrument yang sudah bergabung sejak awal terbentuknya INO
(Indonesian National Orchestra) pada bulan Mei 2010.
Sesuai arahan pak Franki Raden, untuk membentuk orkestra tradisi yang sulit ditiru oleh orkestra Barat maka setiap anggota menunjukkan keunikan alat musiknya menggunakan tangga nada asli daerah asal.
Pada giliran kolintang, saya memainkan lagu-lagu popular Minahasa seperti Sipatokaan,dan Oinanikeke. Tetapi teman-teman musisi tradisi menanggapi kalau lagu yang saya mainkan adalah nada-nada diatonis khas musik Barat dan mereka mengusulkan memainkan lagu-lagu pentatonis supaya hilang kesan Baratnya.
Kemudian saya memainkan lagu Gundul-gundul Pacul lalu seorang teman menimpali itu dari Jawa, saya ganti dengan lagu Es Lilin tetapi diprotes teman yang lain kalau itu lagu daerah Sunda.
Aduh kasihan………
Kolintang dilarang dimainkan selama +/-100 tahun pada masa kolonialisme dan muncul kembali menjadi kolintang modern dengan tangga nada diatonis khas musik Barat.
Hal ini membuat lagu-lagu kuno Minahasa kurang populer dalam lingkup Nasional.
Setelah kejadian itu, pak Petrus kaseke menjelaskan kalau kata kolintang berasal dari susunan 3 bunyi yaitu Tong = nada rendah , Tang = nada tengah dan Ting= nada tinggi dan dikembangkan secara simetris dengan pusat di tengah.
Jadi kolintang membicarakan konsep bunyi, bukan tentang bahan logam, bambu atau kayu.
Hal ini serupa dengan pendapat budayawan Jessy Wenas bahwa tangga nada kolintang asli adalah tritonis, dengan contoh alat kentongan bambu (Tentengkoren) 3 bunyi yang dinamai Loway (anak), Ina (ibu ) dan Ama (ayah).
Pendapat tersebut dikuatkan lagi oleh lagu kuno Nyanyian Karema dalam upacara adat Minahasa menggunakan 3 nada atonal yang menceritakan asal usul suku Minahasa.
Menurut mitos suku Minahasa adalah keturunan Toar (dewa Matahari) dan Lumimuut (dewi Bumi).
Kolintang sudah ada sejak terbentuknya suku Minahasa karena keturunan pertama Toar dan Lumimuut adalah Tingkulengdeng yang ahli mengartikan suara burung, ahli bangunan merangkap dewa kolintang kayu.
Suara burung Manguni dipercaya sebagai petanda baik apabila bersiul sebanyak 1,3 atau 9 kali. Rumah adat Minahasa bertumpu pada Tuur ( batang tengah), atap berbentuk segitiga, bangunan yang simetris dan anak tangga yang berjumlah ganjil. Dengan memadukan aturan-aturan di atas kita dapat menyusun tangga nada asli Minahasa karena konsep kolintang yang holistik, tidak terbatas sebagai alat musik.
Yang menakjubkan, aturan tritonis berlipat dapat menyerap dengan mudah tangga nada dari luar Minahasa bahkan tangga nada diatonis.
Menurut Ensiklopedia Britannica, musik Barat berasal dari daerah sekitar laut Mediterania termasuk Mesir yang mempunyai dewa tertinggi Ra ( Dewa Matahari) yang mempunyai nama mirip dengan Toar (Dewa Matahari Minahasa).
Perkembangan tangga nada Minahasa setelah tritonis, adalah hexatonis (3x2) seperti yang terdapat dalam sket buku Ethnographisce Miszelen Minahasa Celebes. Meyer A.B and O. Richter, Museum Dresden 1902 dimana susunan nadanya 5,7,1,3,4 dan 6. Susunan nada Kolintang Gong tersebut dapat memainkan tangga nada pentatonis.
Pak Petrus Kaseke pada awal produksinya membuat kolintang dengan susunan Nonatonis (3x3) yaitu susunan nada diatonis ditambah nada 1 kruis dan 1 mol atau 1,2,3,4,4#,5,6,6#,7, sebelum berkembang menjadi susunan Kromatis (3x4).
https://id.wikipedia.org/wiki/Petrus_Kaseke.
Kembali ke topik awal, susunan nada apa yang saya gunakan untuk berkolaborasi dalam INO? Pak Franki Raden jarang memberikan partitur musik, jadi hanya mengatakan terserah tapi yang enak.
Saya paling trauma kalau mendengar kata terserah (apalagi kalau keluar dari mulut maitua), apapun yang dikerjakan sulit diprediksi benar atau tidaknya bahkan jadi serba salah. Untungnya saya ingat konsep bunyi Manguni Makatelu (3x) Makasiow (9x) sebagai petanda baik, jadi saya menggunakannya sebagai dasar tangga nada.
Apabila dipadukan dengan potongan lagu kuno Minahasa yang kerap dinyanyikan saat menari maengket, acara Mapalus dan mengambil nuansa lagu-lagu Makaaruyen yang menggugah rasa maka nadanya mirip dengan pola improvisasi Blues.
Sepertinya langkah ini bisa diterima, karena kemudian di INO muncul lagu dengan judul Blues for You.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Maimo Kumolintang
http://www.kolintang.co.id
Sesuai arahan pak Franki Raden, untuk membentuk orkestra tradisi yang sulit ditiru oleh orkestra Barat maka setiap anggota menunjukkan keunikan alat musiknya menggunakan tangga nada asli daerah asal.
Pada giliran kolintang, saya memainkan lagu-lagu popular Minahasa seperti Sipatokaan,dan Oinanikeke. Tetapi teman-teman musisi tradisi menanggapi kalau lagu yang saya mainkan adalah nada-nada diatonis khas musik Barat dan mereka mengusulkan memainkan lagu-lagu pentatonis supaya hilang kesan Baratnya.
Kemudian saya memainkan lagu Gundul-gundul Pacul lalu seorang teman menimpali itu dari Jawa, saya ganti dengan lagu Es Lilin tetapi diprotes teman yang lain kalau itu lagu daerah Sunda.
Aduh kasihan………
Kolintang dilarang dimainkan selama +/-100 tahun pada masa kolonialisme dan muncul kembali menjadi kolintang modern dengan tangga nada diatonis khas musik Barat.
Hal ini membuat lagu-lagu kuno Minahasa kurang populer dalam lingkup Nasional.
Setelah kejadian itu, pak Petrus kaseke menjelaskan kalau kata kolintang berasal dari susunan 3 bunyi yaitu Tong = nada rendah , Tang = nada tengah dan Ting= nada tinggi dan dikembangkan secara simetris dengan pusat di tengah.
Jadi kolintang membicarakan konsep bunyi, bukan tentang bahan logam, bambu atau kayu.
Hal ini serupa dengan pendapat budayawan Jessy Wenas bahwa tangga nada kolintang asli adalah tritonis, dengan contoh alat kentongan bambu (Tentengkoren) 3 bunyi yang dinamai Loway (anak), Ina (ibu ) dan Ama (ayah).
Pendapat tersebut dikuatkan lagi oleh lagu kuno Nyanyian Karema dalam upacara adat Minahasa menggunakan 3 nada atonal yang menceritakan asal usul suku Minahasa.
Menurut mitos suku Minahasa adalah keturunan Toar (dewa Matahari) dan Lumimuut (dewi Bumi).
Kolintang sudah ada sejak terbentuknya suku Minahasa karena keturunan pertama Toar dan Lumimuut adalah Tingkulengdeng yang ahli mengartikan suara burung, ahli bangunan merangkap dewa kolintang kayu.
Suara burung Manguni dipercaya sebagai petanda baik apabila bersiul sebanyak 1,3 atau 9 kali. Rumah adat Minahasa bertumpu pada Tuur ( batang tengah), atap berbentuk segitiga, bangunan yang simetris dan anak tangga yang berjumlah ganjil. Dengan memadukan aturan-aturan di atas kita dapat menyusun tangga nada asli Minahasa karena konsep kolintang yang holistik, tidak terbatas sebagai alat musik.
Yang menakjubkan, aturan tritonis berlipat dapat menyerap dengan mudah tangga nada dari luar Minahasa bahkan tangga nada diatonis.
Menurut Ensiklopedia Britannica, musik Barat berasal dari daerah sekitar laut Mediterania termasuk Mesir yang mempunyai dewa tertinggi Ra ( Dewa Matahari) yang mempunyai nama mirip dengan Toar (Dewa Matahari Minahasa).
Perkembangan tangga nada Minahasa setelah tritonis, adalah hexatonis (3x2) seperti yang terdapat dalam sket buku Ethnographisce Miszelen Minahasa Celebes. Meyer A.B and O. Richter, Museum Dresden 1902 dimana susunan nadanya 5,7,1,3,4 dan 6. Susunan nada Kolintang Gong tersebut dapat memainkan tangga nada pentatonis.
Pak Petrus Kaseke pada awal produksinya membuat kolintang dengan susunan Nonatonis (3x3) yaitu susunan nada diatonis ditambah nada 1 kruis dan 1 mol atau 1,2,3,4,4#,5,6,6#,7, sebelum berkembang menjadi susunan Kromatis (3x4).
https://id.wikipedia.org/wiki/Petrus_Kaseke.
Kembali ke topik awal, susunan nada apa yang saya gunakan untuk berkolaborasi dalam INO? Pak Franki Raden jarang memberikan partitur musik, jadi hanya mengatakan terserah tapi yang enak.
Saya paling trauma kalau mendengar kata terserah (apalagi kalau keluar dari mulut maitua), apapun yang dikerjakan sulit diprediksi benar atau tidaknya bahkan jadi serba salah. Untungnya saya ingat konsep bunyi Manguni Makatelu (3x) Makasiow (9x) sebagai petanda baik, jadi saya menggunakannya sebagai dasar tangga nada.
Apabila dipadukan dengan potongan lagu kuno Minahasa yang kerap dinyanyikan saat menari maengket, acara Mapalus dan mengambil nuansa lagu-lagu Makaaruyen yang menggugah rasa maka nadanya mirip dengan pola improvisasi Blues.
Sepertinya langkah ini bisa diterima, karena kemudian di INO muncul lagu dengan judul Blues for You.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Maimo Kumolintang
http://www.kolintang.co.id
Feb 7, 2018
Karakter nada musik kolintang asli Minahasa
Karakter nada musik kolintang asli
Minahasa dalam INO.
INO(Indonesian National Orchestra) adalah group musik yang
anggotanya beragam pemusik pemusik dari seluruh Indonesia,dimana keunikannya
adalah mencoba menyatukan budaya-budaya musik dari seluruh daerah di Indonesia
"tanpa menghilangkan" identitas asli daerah tersebut,menjadi kesatuan
orkes yang harmonis.
Susah menyatukan permainan musik ,dimana instrument
instrument masing-masing daerah tersebut dibuat seperti apa adanya tanpa
merubah warna suaranya,frekwensi nadanya,maupun tangga nadanya,kecuali beberapa
alat musik yang memang biasanya diselaraskan.
Karena karakter musik masing-masing daerah juga dicoba
dipertahankan, membuat semakin sulit lagi menyatukannya ,sehingga tidak dapat
dibuat partitur secara detail,hanya dibuat giliran-giliran main ,supaya ada
kesempatan menonjolkan alat musik masing-masing daerah,karena kalau semua
berbunyi akan tenggelam suaranya.
Sebagai pemersatu yang paling logis tentunya adalah
irama(ritme),meskipun menjadi rumit karena kadang-kadang harus menggunakan
poliritmik(bermacam-macam irama yang disatukan).
Supaya dapat bersifat universal maka harus menggunakan
komunikasi non-verbal,tanpa kata-kata(kalaupun ada lirik lagu,fungsinya hanya
didengar bunyi-bunyiannya yang tidak memberikan arti bahasa verbal).
Saya yang terbiasa main musik dengan aturan-aturan permainan
musik barat (pakai partitur,ada melody,chord dll) menjadi kagok dengan aturan
baru :"mainkan saja musikmu ,tidak ada yang salah atau benar,yang ada
adalah enak atau tidak enak,cocok atau tidak cocok".
Meskipun dibilang oleh pimpinan :"bebas...,mainkan saja
improvisasimu ,jangan takut salah" ,tapi kalau dia rasa mainnya tidak
pas,tetap saja di omelin :(
"Nah loh ...bagaimana caranya berimprovisasi bebas tapi
selaras?",ada yang bilang lebih gampang ikut jams session pada group musik
jazz karena batasan-batasannya lebih jelas dibandingkan berkolaborasi dalam
group INO.
Waktu anak saya bergabung pertama kali dengan INO,di sela
sela jam istirahat dia berkata: "Papa ,aku bisa tahu daerah asal
orang-orang yang meniup suling tanpa melihat pemainnya cukup dari mendengar
tiupannya."
Dia mengidentifikasikan pemain suling asal Tapanuli dari
hembusannya yang menggebah-gebah seperti cara bicaranya,pemain suling Sunda
dari cengkok-cengkoknya ,dan pemain musik asal Bali yang meniup khas dengan
napas yang tidak terputus.
Sekarang giliran kolintang,bagaimana cara mengidentifikasi
kolintang dari bunyinya?
Kolintang jaman sekarang yang mempunyai bilah-bilah
chromatic 12 nada dan lebih bebas untuk memainkan segala macam lagu ,namun
justru membuat saya kesulitan membentuk karakter nada musik kolintang di
INO,karena nada kolintang tidak spesifik seperti nada gamelan yang memiliki
frekwensi nada unik.
Saat saya membunyikan phrase lagu-lagu daerah Minahasa yang
populer mewakili kolintang(seperti Sayang-sayang , Oinanikeke)ternyata belum
diterima oleh teman-teman INO,kata mereka itu belum spesifik kolintang ,itu
dimiliki secara nasional di seluruh Indonesia.
Mereka meminta:"yang kolintang,...yang kolintang
asli,yang Minahasa asli....." ...hmmmm? plonga-plongo(bengong) dulu
sejenak..
Dari pada bengong,seorang teman dari Sumatera
Barat,mencontohkan dengan nada nada serunainya,agar kolintang
mengikutinya,tetapi lagu Melayu yg dimainkan kolintang mengikuti serunai tidak
cocok menunjukkan karakter kolintang.
Oleh teman yang lain diusulkan menggunakan tangga nada
pentatonis saja,karena kebanyakan musik-musik daerah bertangga nada pentatonis.
Memerlukan waktu seharian untuk menggali lebih dalam sejarah
kolintang,sampai akhirnya saya putuskan menggunakan nada pentatonis untuk
karakter musik kolintang,karena memang menurut sejarah kolintang bertangga nada
pentatonis,bahkan era sebelumnya lagi hanya bernada tritonis.
Keesokan harinya saya memainkan musik kolintang dengan
tangga nada pentatonis,tapi masih 'ngeyel' mencoba mengkombinasikan dengan
tranposisi-modulasi beragam nada dasar,supaya lebih sepadan dengan kemampuan
instrumen kolintang jaman now.
Pada saat memainkan kolintang dengan pentatonis
bermodulasi,ternyata tidak disetujui pak Franki Raden (pimpinan INO
),katanya:"itu karakter suara marimba,bukan kolintang",akhirnya saya
diminta untuk tetap memainkan dengan tangga nada pentatonis,tetapi dengan
tambahan nada tertentu supaya tidak terlalu ketara pentatonisnya.
Alhasil karakter kolintang yang "diterima"
terdengar seperti tangga nada Blues,supaya tidak terlalu blusukan ke dalam
Blues saya memberi penekanan ke nada tritonis(nada-nada kolintang kuno),dan
supaya ada kesan rintihannya saya mainkan bau-bau musik Maka'aruyen(Blues nya
orang Minahasa).
Aroy.......
@kolintang Markus Sugi
Link:
Dec 28, 2017
Kayu terbaik untuk bilahan Kolintang
Selama melayani pembeli kolintang,saya sering menghadapi pertanyaan pertanyaan tentang perbandingan kwalitas suara bilahan kayu Waru dengan kayu lainnya,karena ada berbagai pendapat mengenai macam macam kayu yang paling baik untuk bilahan kolintang.
Dengan catatan ini semoga dapat menjawab lebih detail alasan-alasan kami memilih kayu Waru untuk bilahan kolintang.
Menurut penuturan Petrus Kaseke,sejak kecil secara tidak sengaja sudah bereksperimen dengan mencoba bermacam macam kayu untuk dibuat kolintang yang setelah selesai bermain-main dijadikan kayu bakar.
Kakeknya yang bernama Leufrand Kaseke seorang tukang kayu di Ratahan,mengajarkan nama nama dari kayu yang dijumpai Petrus Kaseke kecil, antara lain yang cocok untuk bermain kolintang adalah kayu Tolor/Bandaran.
Kayu Tolor/Bandaran menghasilkan suara yang merdu apabila dipukul,sayangnya sangat rapuh sehingga sulit disimpan dalam waktu yang lama.
Setelah bermigrasi ke pulau Jawa,Petrus Kaseke memulai lagi pencariannya dalam melanjutkan hobby bermain kolintang,akhirnya didapati kayu yang ideal untuk memproduksi bilahan kolintang adalah kayu Waru dengan kwalitas bunyi yang mirip kayu Tolor,lebih awet dan mudah di dapat dipasaran,karena kayu Waru juga merupakan bahan material untuk bangunan rumah tinggal.
Kesimpulan yang didapat setelah pencarian jenis jenis kayu yang baik untuk bilahan kolintang adalah kayu jenis-jenis kayu yang berserat lurus(tetapi tidak semua).
Perkembangan di Sulawesi utara, kerabat Petrus Kaseke yang memproduksi kolintang juga pengrajin-pengrajin lainnya menggunakan bilahan kayu Cempaka,dengan kwalitas bunyi yang sedikit dibawah kayu Tolor/Bandaran tetapi lebih awet.
Sedangkan di pulau Jawa suara bilahan kayu cempaka lebih jelek dibandingkan dengan kayu Waru ,hal ini mungkin karena kesulitan untuk mendapatkan kayu Cempaka yang berserat lurus,demikian sebaliknya di Sulawesi sulit untuk mendapatkan kayu Waru.
Selain bereksperimen dengan kayu-kayu lunak yang disebutkan diatas,Petrus Kaseke juga mencoba kayu keras seperti kayu Sonokembang (rosewood)dan kayu yang untuk bilahan gambang gamelan.
Kayu Rosewood adalah kayu yang di unggulkan pembuat alat musik Marimba (Xylophone) di luar negeri,dan ternyata diluar negeri juga terjadi berbagai pendapat untuk kayu yang ideal untuk bilahan alat musiknya ,rata rata mereka mengunggulkan kayu yang gampang dijumpai dimasing masing daerah mereka seperti kayu Padouk,Honduras Mahogany,African Walnut,Brazilian Cherry dan lain lain.
Dalam eksperimen Petrus Kaseke membandingkan dengan kayu keras untuk bilahan kolintang,ternyata hasilnya kayu Waru tetap yang terbaik.Alat musik Marimba/Xylophone yang menggunakan kayu keras dapat terdengar dengung yang panjang itu karena pengaruh resonatornya yang berbeda dengan kolintang.Tidak dipungkiri nada nada kayu keras lebih tahan terhadap perubahan cuaca,oleh sebab itu Petrus Kaseke juga menggunakan bilahan kayu keras untuk bilahan acuan tuning selain menggunakan digital tuner.
Suatu ketika kami berkesempatan untuk memperkenalkan kolintang pada universitas di Australia,terjadi diskusi tentang kwalitas suara kayu Waru.Kami dapat membuktikan dengan membandingkan bilahan xylophone yang tersedia disitu,tanpa resonator suara kayu waru lebih terdengar bagus terutama untuk nada nada rendah.Sedangkan untuk kekuatan dan keawetan yang diragukan orang Australia,karena menurut dia lebih baik kayu keras yang bahkan dapat dipakai untuk bantalan kereta api,kami dapat menjawab selama dipergunakan dalam ruang dan tidak dilindas kereta api,kayu Waru dapat bertahan lama.
Dalam kesempatan lain,karena sudah mendapat penjelasan dari Petrus Kaseke tentang keunggulan suara kayu Waru,saya usulkan ke guru gamelan saya,agar bilahan gambangnya diganti dengan kayu Waru,yang dijawab oleh pak guru :"ojo keminter"(jangan sok tahu).
Diterangkan kalau empu empu pembuat gamelan sudah mempunyai pertimbangan matang,karena mereka selain membuat suara gamelan dapat terdengar bagus oleh telinga,juga dirancang untuk dapat merasuk kedalam jiwa,sehingga dalam pemilihan bahan untuk membuat gamelan juga tidak sembarangan,bahkan mereka melakukan ritual puasa selama membuat gamelan.(wuih...lebih dalam lagi ilmunya 😃 ).
Jadi kesimpulannya sulit untuk membandingkan secara obyektif kayu bilahan mana yang terbaik,kalaupun di voting ,pemenang votingnya adalah kayu yang disukai(karena dipilih oleh lebih banyak peserta voting),tetapi belum tentu kayu yang terbaik.
#mana bisa selera di test di Laboratorium
by : Markus Sugi
http://www.kolintang.co.id
Dengan catatan ini semoga dapat menjawab lebih detail alasan-alasan kami memilih kayu Waru untuk bilahan kolintang.
Menurut penuturan Petrus Kaseke,sejak kecil secara tidak sengaja sudah bereksperimen dengan mencoba bermacam macam kayu untuk dibuat kolintang yang setelah selesai bermain-main dijadikan kayu bakar.
Kakeknya yang bernama Leufrand Kaseke seorang tukang kayu di Ratahan,mengajarkan nama nama dari kayu yang dijumpai Petrus Kaseke kecil, antara lain yang cocok untuk bermain kolintang adalah kayu Tolor/Bandaran.
Kayu Tolor/Bandaran menghasilkan suara yang merdu apabila dipukul,sayangnya sangat rapuh sehingga sulit disimpan dalam waktu yang lama.
Setelah bermigrasi ke pulau Jawa,Petrus Kaseke memulai lagi pencariannya dalam melanjutkan hobby bermain kolintang,akhirnya didapati kayu yang ideal untuk memproduksi bilahan kolintang adalah kayu Waru dengan kwalitas bunyi yang mirip kayu Tolor,lebih awet dan mudah di dapat dipasaran,karena kayu Waru juga merupakan bahan material untuk bangunan rumah tinggal.
Kesimpulan yang didapat setelah pencarian jenis jenis kayu yang baik untuk bilahan kolintang adalah kayu jenis-jenis kayu yang berserat lurus(tetapi tidak semua).
Perkembangan di Sulawesi utara, kerabat Petrus Kaseke yang memproduksi kolintang juga pengrajin-pengrajin lainnya menggunakan bilahan kayu Cempaka,dengan kwalitas bunyi yang sedikit dibawah kayu Tolor/Bandaran tetapi lebih awet.
Sedangkan di pulau Jawa suara bilahan kayu cempaka lebih jelek dibandingkan dengan kayu Waru ,hal ini mungkin karena kesulitan untuk mendapatkan kayu Cempaka yang berserat lurus,demikian sebaliknya di Sulawesi sulit untuk mendapatkan kayu Waru.
Selain bereksperimen dengan kayu-kayu lunak yang disebutkan diatas,Petrus Kaseke juga mencoba kayu keras seperti kayu Sonokembang (rosewood)dan kayu yang untuk bilahan gambang gamelan.
Kayu Rosewood adalah kayu yang di unggulkan pembuat alat musik Marimba (Xylophone) di luar negeri,dan ternyata diluar negeri juga terjadi berbagai pendapat untuk kayu yang ideal untuk bilahan alat musiknya ,rata rata mereka mengunggulkan kayu yang gampang dijumpai dimasing masing daerah mereka seperti kayu Padouk,Honduras Mahogany,African Walnut,Brazilian Cherry dan lain lain.
Dalam eksperimen Petrus Kaseke membandingkan dengan kayu keras untuk bilahan kolintang,ternyata hasilnya kayu Waru tetap yang terbaik.Alat musik Marimba/Xylophone yang menggunakan kayu keras dapat terdengar dengung yang panjang itu karena pengaruh resonatornya yang berbeda dengan kolintang.Tidak dipungkiri nada nada kayu keras lebih tahan terhadap perubahan cuaca,oleh sebab itu Petrus Kaseke juga menggunakan bilahan kayu keras untuk bilahan acuan tuning selain menggunakan digital tuner.
Suatu ketika kami berkesempatan untuk memperkenalkan kolintang pada universitas di Australia,terjadi diskusi tentang kwalitas suara kayu Waru.Kami dapat membuktikan dengan membandingkan bilahan xylophone yang tersedia disitu,tanpa resonator suara kayu waru lebih terdengar bagus terutama untuk nada nada rendah.Sedangkan untuk kekuatan dan keawetan yang diragukan orang Australia,karena menurut dia lebih baik kayu keras yang bahkan dapat dipakai untuk bantalan kereta api,kami dapat menjawab selama dipergunakan dalam ruang dan tidak dilindas kereta api,kayu Waru dapat bertahan lama.
Dalam kesempatan lain,karena sudah mendapat penjelasan dari Petrus Kaseke tentang keunggulan suara kayu Waru,saya usulkan ke guru gamelan saya,agar bilahan gambangnya diganti dengan kayu Waru,yang dijawab oleh pak guru :"ojo keminter"(jangan sok tahu).
Diterangkan kalau empu empu pembuat gamelan sudah mempunyai pertimbangan matang,karena mereka selain membuat suara gamelan dapat terdengar bagus oleh telinga,juga dirancang untuk dapat merasuk kedalam jiwa,sehingga dalam pemilihan bahan untuk membuat gamelan juga tidak sembarangan,bahkan mereka melakukan ritual puasa selama membuat gamelan.(wuih...lebih dalam lagi ilmunya 😃 ).
Jadi kesimpulannya sulit untuk membandingkan secara obyektif kayu bilahan mana yang terbaik,kalaupun di voting ,pemenang votingnya adalah kayu yang disukai(karena dipilih oleh lebih banyak peserta voting),tetapi belum tentu kayu yang terbaik.
#mana bisa selera di test di Laboratorium
by : Markus Sugi
http://www.kolintang.co.id
May 17, 2017
Kolintang vs Marimba
Marimba adalah alat musik perkusi bernada dengan bilahan
dari kayu dan resonator pipa,yang banyak dipakai di luar negeri.
Penggunaan Marimba di Indonesia relatif sedikit ,dan biasanya
digunakan untuk pit instrument,yaitu instrument musik pada Marching Band yang
statis,tidak bergerak mengikuti baris berbaris.
Akhir akhir ini cukup banyak yang menjadikan Kolintang menggantikan
fungsi Marimba sebagai pit instrument.
Ulasan yang masuk akal tentang 10 Kelebihan kolintang
dibanding Marimba.
1.Secara bentuk Kolintang yang menggunakan resonator kotak ,*lebih mudah dibawa-bawa* dibanding
dengan Marimba yang ,menggunakan resonator pipa .
2.Peti resonator Kolintang dapat menjadi tempat penyimpanan
untuk bagian kolintang yang lain ,antara lain bilahan,stick pemukul,atau peti
kolintang yang lebih kecil,jadi * lebih ringkas*,dibanding Marimba untuk
jumlah nada yang sama.
3.Kolintang menggunakan sistim replacable bar(bilahan yang
dapat di gonta ganti),sehingga *lebih
flexible* dibanding Marimba yang menggunakan sistim fixed,untuk lebih
mudah untuk memainkan lagu dan lebih
luas penggunaannya karena bilahannya dapat diganti dengan bilahan yang non
standar tuning musik barat,misalnya untuk memainkan lagu tradisional.
4.Kolintang menghasilkan suara yang yang *tidak kalah nyaring* dibanding dengan
Marimba.Sebagai alat musik yang berasal dari kentongan akan terdengar dari
kejauhan walaupun tanpa pengeras suara.
5.Kolintang menggunakan sistim Salome ,satu lobang resonator
untuk rame-rame banyak nada(bilahan),sedangkan marimba satu resonator pipa utk
satu bilahan.
Dengan satu resonator pipa untuk satu bilahan diharapkan akan mendapatkan suara yang maksimal untuk masing masing nada,tetapi ternyata untuk menghasilkan suara yang terbaik,pemain Marimba harus menyesuaikan dengan berjenis-jenis pemukul(mallet) yang cocok untuk tiap-tiap bilahan Marimba.Dibanding dengan Marimba ,kolintang lebih praktis karena cukup memilih pemukul yang secara rata rata cocok untuk semua nada.
6.Kolintang menghasilkan nada lebih pendek dibanding dengan
Marimba,tetapi ini adalah *ciri khas *bukan
kekurangan,perpanjangan dengung dari Marimba bukan asli suara kayu melainkan
suara dari pipa resonator yang ujungnya diberi membrane,meskipun kami mempunyai
pengalaman dengan resonator pipa (angklung menggunakan resonator bambu sebagai
pipa),kami lebih memilih mempertahankan ciri khas suara kayu,lagi pula suara
yang pendek dapat diatasi dengan teknik memukul sambil menggetarkan.
7.Harga Kolintang *lebih
murah* dibanding Marimba,perbandingan saat ini 1 Marimba seharga +/- 10
instrument kolintang.
8.Kolintang memiliki *rentang
nada yang lebih panjang* dibanding Marimba ,nada tertinggi kolintang sama
dengan nada tertinggi Marimba,tetapi nada terendah Bass Kolintang lebih rendah
dari pada Marimba.Sebetulnya Marimba memiliki Bass yang rendah juga( namanya
Marimba Eroica) tetapi dikarenakan tidak praktis dengan sistim satu resonator
satu bilah ,maka Marimba dengan nada terendah sudah masuk museum.
9.Kolintang *lebih
luas penggunaannya* dibandingkan dengan Marimba,karena Kolintang lebih
sering dimainkan berkelompok dibanding kelompok marimba meskipun masing masing
dapat bermain sendiri sendiri(solo).Pernah tercatat dalam Guiness World Record
,permainan kolintang dengan >2000 pemain.
10.Kolintang *lebih
exotic* dibanding dengan Marimba,kemungkinan di buat karya seni lebih luas,karena
semua bagiannya terbuat dari kayu
,sehingga dapat diukir,dibatik atau
finishing lainnya yang bernilai seni .
Semoga dengan ulasan di atas kita dapat berbangga dengan
kolintang dan kita dapat memahami bahwa alat musik Indonesia tidak kalah bagus
dengan produk luar negeri.
By: @kolintang
Mar 27, 2016
9 Salah kaprah tentang Kolintang dan Penjelasannya .
1.Belajar bermain kolintang itu sulit.
Kolintang termasuk golongan alat musik perkusi.Perkusi
adalah alat musik yang paling primitif dan paling
mudah dimainkan oleh manusia.Dibanding belajar
alat musik yang ditiup-tiup atau yang disentil sentil dengan jari,kolintang
lebih mudah untuk dipelajari.
2. Instrument kolintang harus dimainkan bersama-sama dalam satu set (group).
Kolintang adalah alat musik yang dapat
dimainkan secara solitaire (sendirian),karena sudah lengkap memiliki fungsi
melodis,harmonis maupun ritmisnya didalam satu buah instrument kolintang.
Asal mula kolintang adalah kentongan (tetengkoren) yang selain untuk mengiringi tari-tarian juga dapat untuk membunyikan tanda bahaya misalnya ada pencuri.kalau misalnya ada pencuri lalu kita harus mencari teman untuk membunyikannya bersama-sama ,tentu pencurinya keburu kabur. J
Asal mula kolintang adalah kentongan (tetengkoren) yang selain untuk mengiringi tari-tarian juga dapat untuk membunyikan tanda bahaya misalnya ada pencuri.kalau misalnya ada pencuri lalu kita harus mencari teman untuk membunyikannya bersama-sama ,tentu pencurinya keburu kabur. J
3.Kolintang melody lebih
susah dimainkan dibanding kolintang pengiring atau bas.
Instrument kolintang mulai dari
melody,alto,tenor,cello,bas pada dasarnya adalah sama ,hanya dibagi-bagi
berdasarkan tinggi rendahnya nada.Untuk membayangkan seperti alat musik piano
standar 7 oktaf,yang dibagi-bagi menjadi beberapa piano pendek masing-masing
3,5 oktaf dan 2 oktaf,atau seperti kalau kita memotong singkong menjadi
beberapa bagian, potongan pangkal singkong yang besar maupun potongan ujung
yang kecil rasanya sama saja.Jadi kalau kita menguasai instrument melody
kolintang,maka kita dengan mudah menguasai instrument kolintang yang lainnya.
4.Kolintang adalah alat
musiknya ibu-ibu.
Pada awalnya kolintang berkembang dengan
pesat di pulau jawa,karena dapat dijadikan kegiatan selingan untuk kegiatan
perkumpulan arisan,dharmawanita,kegiatan keagamaan atau organisasi lainnya yang
kebetulan anggotanya banyak ibu-ibu serta gaung aktifitasnya lebih terdengar dimasyarakat.Sebetulnya
lebih banyak anak-anak muda yang bermain musik menggunakan alat musik kolintang,bahkan di daerah asal
kolintang( Minahasa )lebih sulit menemukan group kolintang ibu-ibu dibandingkan
group musik kolintang anak-anak muda.
5.Belajar kolintang membosankan.
Kolintang adalah alat musik perkusi
bernada,seperti umumnya alat musik perkusi ( drum,jimbe,cajon,tabla) yang dapat
membuat penggemarnya kecanduan,sekali kita terpesona dan kesengsem dengan pola
ritmisnya,maka sampai kapanpun kita tidak dapat berhenti untuk mendengar atau
memainkannya.Sebagai alat musik bernada,mirip dengan piano dimana penggemarnya
tahan bermain berjam-jam tanpa berhenti.
6.Kolintang terbuat dari bambu.
Banyak orang yang tertukar pengertiannya
tentang kolintang dan angklung ,karena kedua alat musik tersebut sering
dimainkan bersama,selain itu ada produsen yang selain pembuat kolintang juga pembuat
angklung.Penjelasannya adalah kolintang terbuat dari kayu,sedangkan angklung
terbuat dari bambu.
7.Cara membuat kolintang semudah memakukan bilah-bilah kayu diatas
kotak sabun.
Untuk membuat alat musik yang berkualitas
baik tidak mudah ,karena kita harus memperhatikan kualitas bahan,tuning nada
yang tepat,ukuran bilah kayu,ukuran dan bentuk peti resonansi serta peletakan
bilah-bilah kayu tersebut.Di salah satu musium alat musik di Indonesia,ada
benda yang diberi label kolintang,rupanya dibuat oleh tukang kayu yang
mendapatkan order membuat kolintang dan meniru bentuk kolintang dari gambar
yang dia lihat.Untuk di tonton pengunjung mungkin cukup memenuhi syarat,tetapi
tidak dapat dibunyikan sebagai alat musik,bahkan nyaris tidak berbunyi.
8.Kolintang mahal harganya.
Mahal atau murah relatif tergantung
kualitas dan alat musik pembandingnya,untuk alat musik yang sejenis dengan
kolintang seperti xylophone.marimba yang diproduksi di luar negeri ,kolintang
jauh lebih murah.Bahkan sekarang sudah banyak yang menggantikan xylophone/marimba
yang merupakan pit instrumentnya
marching band dengan ‘kolintang modifikasi’ karena lebih murah.
9.Kolintang adalah alat musik tradisional yang kuno.
Kolintang adalah alat musik tradisional
tetapi sudah ber evolusi menjadi alat
musik modern yang keren dengan
susunan nada yang chromatic,bahkan sudah mulai dikembangkan untuk menghasilkan
bunyi-bunyian digital seperti drum elektrik. Penggemar-penggemar kolintang
sekarang banyak yang memodifikasi tampilannya dengan finishing
airbrush,decoupage paper atau finishing lainnya yang ‘up to date’.
@kolintang
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Selama melayani pembeli kolintang,saya sering menghadapi pertanyaan pertanyaan tentang perbandingan kwalitas suara bilahan kayu Waru deng...
-
Daeng Soetigna adalah tokoh angklung modern yang pada tahun 1938 berhasil membuat angklung diatonis yang digubahnya dari angklung tradisiona...
-
Link ini https://www.youtube.com/watch?v=FSDTQXK9jds adalah video pemain perkusi bernada memainkan lagu klasik yang temponya cepat, The...